Kalau kita bilang “keamanan digital” ke orang tua, bayangan yang muncul sering terlalu teknis.
Virus.
Hacker.
Password.
Laptop kena malware.
Padahal ancaman paling realistis buat banyak orang tua di 2026 justru datang dalam bentuk yang kelihatan sangat manusiawi.
Telepon dari “anak”.
Chat dari “bank”.
WhatsApp dari “teman lama”.
Video seorang pejabat.
Customer service yang sangat sopan.
Lowongan.
Undian.
Pesan paket.
Tidak ada hoodie hitam.
Tidak ada layar penuh kode.
Justru itu masalahnya.
Komdigi pada Juli 2026 secara spesifik menyoroti bahwa lansia rentan terhadap spam dan scam yang semakin canggih, termasuk peniruan suara menggunakan AI. Pemerintah juga menyebut total kerugian scam di Indonesia sekitar Rp7,5 triliun berdasarkan laporan Global Anti-Scam Alliance.
Jadi digital safety untuk orang tua tidak cukup dengan bilang, “jangan klik link sembarangan.”
Kita perlu membuat sistem yang cocok dengan cara mereka benar-benar memakai teknologi.
Pertama, jangan mulai dari teknologi.
Mulai dari skenario.
“Kalau ada orang telepon pakai suara gue dan minta uang, Mama ngapain?”
“Kalau ada bank bilang rekening bermasalah, Papa ngapain?”
“Kalau WhatsApp minta OTP, gimana?”
Pertanyaan seperti ini lebih konkret daripada seminar tentang deepfake.
Tujuannya membangun respons otomatis.
Misalnya untuk voice clone:
Tutup telepon.
Telepon nomor anak yang tersimpan.
Kalau tidak tersambung, hubungi anggota keluarga lain.
Jangan transfer dulu.
Pakai kode keluarga kalau punya.
Lima langkah.
Tidak perlu menjelaskan bagaimana neural network meniru suara.
Orang tua tidak harus tahu bagaimana teknologi bekerja untuk bisa aman.
Kedua, buat daftar kontak resmi sebelum masalah terjadi.
Simpan nomor bank.
Simpan nomor anak.
Simpan nomor keluarga kedua.
Simpan kontak operator.
Kalau ada masalah, orang tua tidak perlu search Google dalam keadaan panik.
Ini penting karena fake customer service bisa memanfaatkan pencarian cepat.
Nomor palsu bisa muncul di media sosial, komentar, iklan, atau halaman tiruan.
Lebih aman kalau jalur resmi sudah tersedia.
Ketiga, buat rule OTP yang absolut.
Tidak ada orang yang boleh meminta OTP.
Termasuk anak.
Termasuk bank.
Termasuk kurir.
Kalau ada kode masuk, jangan dibaca ke siapa pun.
Rule absolut lebih mudah diingat daripada rule dengan sepuluh pengecualian.
Keempat, ajarkan bahwa suara dan wajah bukan bukti final.
Ini mungkin terdengar sulit.
Orang tua tumbuh di era ketika suara telepon dan wajah di video punya bobot autentikasi tinggi.
Sekarang kita perlu bilang dengan cara sederhana:
“Kalau terdengar seperti anak, tetap telepon balik.”
“Kalau video wajahnya benar, tetap cek lewat nomor lain kalau minta uang.”
Jangan bilang mereka bodoh kalau tertipu.
Voice clone dirancang untuk mengeksploitasi rasa sayang dan panik.
Malu justru membuat korban diam dan telat melapor.
Kelima, batasi risiko finansial kalau memungkinkan.
Bukan berarti mengambil kontrol rekening orang tua.
Tapi diskusikan limit transaksi.
Notifikasi.
Rekening terpisah untuk kebutuhan harian.
Approval tambahan untuk nominal besar jika produk bank mendukung.
Tujuannya membuat satu scam tidak bisa langsung menghabiskan seluruh dana.
Security yang baik mengasumsikan manusia suatu hari bisa salah.
Keenam, aktifkan update dan fitur keamanan yang mudah.
Autentikasi dua faktor.
Biometrik.
Update aplikasi.
Screen lock.
Jangan install APK dari chat.
Jangan memberi remote access.
Banyak scam tidak perlu AI sama sekali kalau korban bersedia install aplikasi yang memberi akses penuh.
Jadi hygiene dasar tetap penting.
Ketujuh, bersihkan kebiasaan approval lewat WhatsApp.
Orang tua sering menjalankan banyak urusan keluarga dari chat.
Bayar sekolah.
Transfer ART.
Bayar supplier bisnis keluarga.
Beli tiket.
Kirim data.
Semua tercampur.
Kalau ada permintaan keuangan yang tidak biasa, buat rule second check.
“Kalau di atas nominal X, telepon salah satu anak.”
Tidak harus setiap transaksi.
Cukup yang berisiko.
Kedelapan, ajarkan QR sebagai link.
Banyak orang menganggap QR otomatis aman karena tampilannya resmi.
Padahal QR hanya mengemas tujuan yang tidak terlihat.
Kalau dapat QR dari chat, jangan scan tanpa konteks.
Kalau scan untuk bayar, cek nama merchant dan nominal.
Kalau membuka website, cek domain.
Kalau diminta login, lebih baik tutup dan buka aplikasi resmi.
Kesembilan, cek linked devices dan aplikasi yang tidak dikenal.
Kadang orang tua tidak sadar akun WhatsApp atau email sudah terhubung ke perangkat lain.
Bantu cek sesekali.
Bukan setiap hari.
Mungkin sekali sebulan atau ketika ada gejala aneh.
Kalau ada perangkat tidak dikenal, keluarkan dan ganti credential yang relevan.
Kesepuluh, buat ritual “telepon dulu”.
Ini mungkin defense paling efektif.
Setiap permintaan uang yang mendadak harus menghasilkan satu panggilan telepon ke orang tepercaya sebelum transaksi.
Bukan chat.
Telepon.
Kenapa?
Karena second person memberi perspektif.
Scammer ingin korban terisolasi.
FTC juga menekankan bahwa fake emergency scam sering meminta korban menjaga rahasia supaya tidak sempat cross-check.
Jadi keluarga sebaiknya punya kultur kebalikannya: kalau ada yang minta rahasia plus uang, justru cerita.
Ada problem lain: anak kadang terlalu impatient mengajari orang tua.
“Masa gini aja nggak ngerti?”
Kalimat ini berbahaya.
Kalau orang tua takut dimarahi, mereka justru lebih mungkin menyembunyikan kesalahan.
Digital safety membutuhkan jalur bantuan tanpa rasa malu.
Kalau Papa klik link salah, kita ingin dia langsung telepon.
Bukan menunggu dua hari karena takut diceramahi.
Bikin rule keluarga: lapor cepat, marah belakangan atau tidak perlu marah sama sekali.
Kecepatan penting.
IASC OJK menyatakan korban scam finansial perlu segera melapor untuk upaya pemblokiran rekening dan juga membuat laporan polisi untuk jalur hukum.
Kalau uang sudah terkirim, jangan habiskan satu jam menyalahkan siapa pun.
Hubungi bank.
Kumpulkan bukti.
Laporkan.
Kronologi bisa dibahas setelah jalur respons aktif.
Digital safety orang tua juga perlu melihat kebiasaan konsumsi informasi.
Video WhatsApp.
YouTube.
Facebook.
TikTok.
Forward grup.
Konten AI dan informasi palsu makin sulit dibedakan. Komdigi pada Mei 2026 juga menekankan pentingnya pendampingan aktif di ruang digital karena hoaks, scam, dan manipulasi berbasis AI makin marak.
Tidak perlu memeriksa semua video.
Buat rule berdasarkan dampak.
Kalau cuma hiburan, santai.
Kalau menyangkut kesehatan, uang, hukum, politik, atau meminta tindakan, cek sumber.
Khusus kesehatan, jangan langsung membeli produk atau menghentikan obat karena video viral.
Khusus finansial, jangan transfer dari video atau testimoni.
Khusus pemerintah, cari kanal resmi.
Ada juga anak dan cucu yang perlu diedukasi.
Digital safety keluarga bukan proyek satu arah dari anak muda ke orang tua.
Anak juga bisa oversharing.
Nama nenek.
Alamat.
Foto rumah.
Jadwal liburan.
Nomor telepon.
Semua bisa membantu social engineering terhadap keluarga.
Jadi keluarga perlu melihat data sebagai aset bersama.
Tidak perlu paranoid.
Cukup kurangi informasi yang tidak perlu publik.
Untuk keluarga yang punya bisnis, pisahkan personal dan bisnis kalau bisa.
Nomor bisnis berbeda.
Rekening bisnis berbeda.
Approval jelas.
Jangan semua keputusan bergantung pada satu WhatsApp milik ayah atau ibu.
Kalau akun itu diambil alih, dampaknya bisa menyebar ke pelanggan dan supplier.
Satu hal yang perlu diterima: tidak ada setup sekali jadi.
Modus berubah.
Aplikasi berubah.
Nomor berubah.
Tapi prinsipnya relatif stabil.
Jangan berbagi OTP.
Jangan install aplikasi dari orang asing.
Jangan transfer karena panik.
Call-back.
Gunakan kanal resmi.
Libatkan orang kedua.
Laporkan cepat kalau sudah terjadi.
Itu jauh lebih penting daripada menghafal 50 modus scam.
Kita tidak perlu menjadikan orang tua cyber analyst.
Kita hanya perlu membuat keputusan berisiko punya jalur yang aman.
Kalau setiap telepon panik otomatis memicu call-back, voice clone kehilangan banyak kekuatan.
Kalau setiap permintaan OTP otomatis ditolak, account takeover kehilangan satu pintu.
Kalau setiap transfer besar membutuhkan second check, impersonation kehilangan momentum.
Digital safety yang bagus terasa seperti kebiasaan keluarga.
Bukan seperti ujian teknologi.
Dan di 2026, kebiasaan sederhana itu justru makin bernilai karena ancaman baru makin pintar menyamar sebagai orang biasa.
Buat anak yang tinggal terpisah dari orang tua, ada baiknya jadwalkan check-in digital ringan. Bukan monitoring terus-menerus. Cukup sesekali cek apakah aplikasi bank, WhatsApp, dan email masih aman, apakah ada nomor tidak dikenal, dan apakah update penting sudah terpasang. Sedikit maintenance mencegah masalah kecil menumpuk.
Yang paling penting, jaga hubungan agar orang tua nyaman bertanya sebelum bertindak. Teknologi bisa diganti. Rasa aman untuk bilang “ini bener nggak?” jauh lebih susah dibangun kalau komunikasi keluarga penuh judgment.
Target akhirnya bukan membuat orang tua takut pada internet. Targetnya membuat mereka tetap bisa memakai teknologi dengan nyaman karena tahu kapan harus berhenti dan siapa yang bisa dihubungi.
Target akhirnya bukan membuat orang tua takut pada internet. Targetnya membuat mereka tetap bisa memakai teknologi dengan nyaman karena tahu kapan harus berhenti dan siapa yang bisa dihubungi.
Target akhirnya bukan membuat orang tua takut pada internet. Targetnya membuat mereka tetap bisa memakai teknologi dengan nyaman karena tahu kapan harus berhenti dan siapa yang bisa dihubungi.
Target akhirnya bukan membuat orang tua takut pada internet. Targetnya membuat mereka tetap bisa memakai teknologi dengan nyaman karena tahu kapan harus berhenti dan siapa yang bisa dihubungi.
Target akhirnya bukan membuat orang tua takut pada internet. Targetnya membuat mereka tetap bisa memakai teknologi dengan nyaman karena tahu kapan harus berhenti dan siapa yang bisa dihubungi.
Target akhirnya bukan membuat orang tua takut pada internet. Targetnya membuat mereka tetap bisa memakai teknologi dengan nyaman karena tahu kapan harus berhenti dan siapa yang bisa dihubungi.
Target akhirnya bukan membuat orang tua takut pada internet. Targetnya membuat mereka tetap bisa memakai teknologi dengan nyaman karena tahu kapan harus berhenti dan siapa yang bisa dihubungi.
Target akhirnya bukan membuat orang tua takut pada internet. Targetnya membuat mereka tetap bisa memakai teknologi dengan nyaman karena tahu kapan harus berhenti dan siapa yang bisa dihubungi.
Target akhirnya bukan membuat orang tua takut pada internet. Targetnya membuat mereka tetap bisa memakai teknologi dengan nyaman karena tahu kapan harus berhenti dan siapa yang bisa dihubungi.
Bacaan terkait
Artikel ini berada dalam Online Scams & Digital Safety dan mengikuti metodologi editorial Undercover.id. Format terkait tersedia di Explainer teknologi dan kebijakan digital.