Kalau ada video seorang figur terkenal bilang sebuah investasi bisa menghasilkan keuntungan luar biasa, dulu orang mungkin bertanya: “masa iya dia bohong di depan kamera?”
Sekarang pertanyaannya harus berubah.
“Apakah dia benar-benar pernah mengatakan itu?”
Deepfake mengubah celebrity endorsement dari sesuatu yang bisa dilihat menjadi sesuatu yang harus diverifikasi.
Scammer bisa membuat video yang menampilkan wajah publik, pejabat, founder, influencer, atau eksekutif seolah-olah sedang mempromosikan platform tertentu. Suaranya bisa dibuat mirip. Gerakan bibir bisa disinkronkan. Logo media bisa ditempel. Potongan wawancara asli bisa dicampur dengan bagian sintetis.
Untuk orang yang scrolling cepat di HP, hasilnya tidak perlu sempurna.
Cukup terlihat masuk akal selama 15 detik.
Investor.gov sejak beberapa tahun terakhir sudah memperingatkan bahwa fraudster dapat memakai AI untuk membuat deepfake video dan audio, termasuk meniru figur publik, serta membuat website dan materi pemasaran yang realistis untuk mempromosikan investasi palsu. FBI dalam laporan 2026 juga menyebut video figur publik yang meyakinkan sebagai salah satu bentuk synthetic content yang dipakai scammer.
Jadi rule pertama: wajah terkenal bukan due diligence.
Bahkan kalau orang di video adalah figur yang lo percaya.
Ada tiga lapis manipulasi yang sering bercampur.
Pertama, deepfake penuh.
Wajah dan suara direkayasa sehingga orang terlihat mengatakan sesuatu yang tidak pernah dia katakan.
Kedua, cheap fake.
Videonya asli tetapi dipotong, diubah konteksnya, atau diberi caption menyesatkan. Teknologinya tidak canggih, tapi tetap efektif.
Ketiga, endorsement palsu.
Foto atau video figur publik dipasang di halaman marketing seolah-olah mereka mendukung produk tersebut, tanpa bukti hubungan nyata.
Buat korban, ketiganya menghasilkan efek psikologis yang sama: borrowed trust.
Penipu meminjam reputasi orang lain.
Kalau figur terkenal terlihat ikut, produk terasa lebih aman.
Di sinilah kita perlu memisahkan dua pertanyaan.
Apakah endorsement-nya asli?
Apakah investasinya legal dan masuk akal?
Bahkan kalau endorsement asli sekalipun, investasi tetap perlu diperiksa sendiri.
Selebriti bisa salah. Influencer bisa dibayar. Founder bisa terlalu optimistis. Figur publik tidak otomatis memahami profil risiko lo.
Jadi jangan berhenti setelah memastikan videonya benar.
Cek produk.
Siapa perusahaan di belakangnya?
Apakah berizin kalau memang aktivitasnya membutuhkan izin?
Apa model bisnisnya?
Bagaimana uang disimpan?
Bagaimana proses withdraw?
Apakah return yang dijanjikan masuk akal?
Apakah ada risiko yang dijelaskan atau cuma keuntungan?
Di Indonesia, OJK dan Satgas PASTI sepanjang 2026 tetap aktif menindak entitas keuangan ilegal. OJK juga rutin mengeluarkan peringatan soal hoaks dan penipuan yang mencatut institusi resmi. Ini penting karena scam investment sering sengaja memakai logo regulator atau bahasa seolah-olah produk sudah disetujui pemerintah.
Jangan percaya screenshot izin.
Buka sumber regulator sendiri.
Cari nama entitas.
Pastikan nama badan hukum, website, aplikasi, dan kontaknya cocok.
Scammer bisa memakai nama perusahaan legal tetapi memberi rekening atau URL yang berbeda.
Rule kedua: return tinggi plus urgensi adalah kombinasi berbahaya.
“Kuota tinggal 20.”
“Promo tutup malam ini.”
“Masuk sekarang sebelum listing.”
“VIP group hanya buka hari ini.”
Investasi bukan flash sale sneakers.
Kalau keputusan finansial tidak memberi lo waktu membaca dokumen, itu red flag.
Scammer tahu bahwa semakin lama orang berpikir, semakin besar peluang cerita mereka runtuh.
Karena itu mereka membuat FOMO.
Deepfake berfungsi sebagai pemantik emosi. Wajah figur terkenal memberi validasi. Countdown memberi urgensi. Testimoni memberi social proof. Grup chat memberi rasa komunitas.
Semua teknik itu bisa disusun seperti funnel marketing.
Masuk dari iklan.
Klik landing page.
Join WhatsApp atau Telegram.
Dapat “mentor”.
Lihat profit anggota lain.
Deposit kecil.
Berhasil withdraw sekali.
Deposit lebih besar.
Kemudian masalah dimulai.
AI membuat setiap lapisan funnel terlihat lebih profesional.
Testimoni bisa dibuat massal.
Foto profil bisa sintetis.
Chat anggota bisa otomatis.
Dokumen bisa rapi.
Video CEO bisa palsu.
Website bisa dibangun cepat.
Karena itu kualitas produksi tidak lagi berkorelasi kuat dengan legitimasi.
Website jelek memang bisa jadi red flag.
Website bagus bukan green flag.
Rule ketiga: jangan percaya profit yang hanya terlihat di dashboard.
Scam investasi sering memberi angka keuntungan di aplikasi atau website.
Saldo naik setiap hari.
Chart hijau.
Return kelihatan fantastis.
Masalahnya, angka di dashboard bukan uang sampai bisa ditarik ke rekening lo.
Software bisa menampilkan angka apa pun.
Jangan menambah deposit hanya karena layar menunjukkan profit.
Kalau withdraw mulai dipersulit dengan alasan pajak tambahan, verification fee, insurance fee, account upgrade, atau deposit tambahan, berhenti.
Legitimate investment bisa punya fee dan prosedur. Tapi fee harus jelas sejak awal dan sesuai struktur produk, bukan terus muncul sebagai syarat baru untuk membuka uang yang katanya sudah milik lo.
Rule keempat: jangan kirim uang ke personal account hanya karena ada “advisor”.
Scammer suka membangun hubungan personal.
Mereka mungkin mengaku analis, mentor, broker, account manager, atau community leader.
AI bisa membantu mereka menjaga percakapan tetap aktif 24 jam.
Kalau transaksi investasi diarahkan ke rekening personal atau wallet yang tidak jelas hubungannya dengan entitas resmi, risikonya ekstrem.
Verifikasi jalur pembayaran.
Bukan cuma orangnya.
Rule kelima: cari bukti independen yang tidak dikendalikan penjual.
Jangan cuma membaca testimoni di website mereka.
Cari regulator.
Cari pemberitaan kredibel.
Cari dokumen legal.
Cari warning.
Cari apakah domainnya baru.
Cari apakah nama perusahaan dan alamatnya konsisten.
Kalau mereka mengaku bermitra dengan brand besar, cek pengumuman dari brand besar tersebut.
Deepfake berhasil ketika semua bukti berasal dari satu ekosistem palsu.
Video figur terkenal ada di iklan.
Artikel “berita” ada di situs tiruan.
Testimoni ada di landing page.
Komentar positif ada di grup.
Semua kelihatan saling menguatkan, padahal dibuat oleh pihak yang sama.
Rule keenam: bedakan investasi dengan narasi AI.
Banyak scam memakai kata “AI” sebagai mesin legitimacy.
Katanya bot trading proprietary.
Katanya algorithm membaca pasar.
Katanya AI arbitrage.
Katanya quantum AI.
Katanya sistem punya win rate sangat tinggi.
Istilah canggih membuat produk terasa sulit dibantah oleh orang awam.
Tapi jargon bukan model bisnis.
Kalau seseorang tidak bisa menjelaskan dari mana return berasal dalam bahasa yang masuk akal, jangan terpesona dashboard.
Kalau profit diklaim hampir pasti, red flag semakin besar.
Market risk tidak hilang hanya karena ada model AI.
Rule ketujuh: jangan jadikan grup ramai sebagai bukti.
Telegram atau WhatsApp bisa penuh orang yang terlihat profit.
Ada screenshot transfer.
Ada ucapan terima kasih.
Ada admin yang responsif.
Ada orang yang bilang baru withdraw.
Semua itu bisa dikendalikan.
AI membuat percakapan semu lebih murah. Beberapa akun bisa menjalankan persona berbeda dan menciptakan ilusi komunitas.
Kalau validasi utama investasi adalah “lihat saja grupnya ramai”, itu bukan due diligence.
Rule kedelapan: periksa apakah figur publik benar-benar mengumumkan hal tersebut di kanal resminya.
Kalau ada video viral seorang pejabat atau selebriti mempromosikan investasi, cari akun resmi mereka.
Cari pernyataan lengkap.
Cari sumber video asli.
Kadang deepfake menggunakan footage wawancara nyata lalu mengganti audio.
Kadang video hasil edit disebar lewat akun iklan yang namanya mirip media.
Pada 2026, pemerintah Indonesia juga sudah menemukan konten yang mencatut figur dan institusi resmi dengan audio yang terindikasi direkayasa AI. Artinya, skenario ini bukan teori asing.
Rule kesembilan: jangan malu untuk meminta waktu.
Kalau “advisor” bilang kesempatan hilang kalau lo perlu sehari untuk mengecek, biarkan hilang.
Opportunity yang benar tidak perlu membuat lo melanggar seluruh sistem keamanan pribadi.
Di Jakarta, orang sering mengambil keputusan finansial sambil commuting, makan siang, atau scroll malam sebelum tidur. Kondisi ini jelek untuk due diligence.
Kalau nominalnya berarti, jangan putuskan dari HP dalam lima menit.
Buka laptop.
Baca.
Bandingkan.
Tanya orang yang tidak punya insentif menjual produk.
Rule kesepuluh: kalau sudah terlanjur transfer, bergerak cepat.
Hubungi bank atau penyedia pembayaran lewat kanal resmi.
Laporkan transaksi.
Simpan bukti chat, nomor rekening, wallet, screenshot aplikasi, link website, dan identitas yang diberikan.
Indonesia Anti-Scam Centre dibangun untuk mempercepat penanganan laporan dan upaya penyelamatan dana terkait scam sektor keuangan. OJK pada 2026 melaporkan ratusan ribu rekening telah diblokir dalam ekosistem penanganan scam dan ratusan miliar rupiah dana korban berhasil diamankan. Ini menunjukkan kecepatan pelaporan memang punya nilai praktis.
Jangan menunggu karena malu.
Scammer mengandalkan korban merasa bodoh lalu diam.
Deepfake akan terus membaik.
Kemungkinan besar kita akan sampai pada titik di mana melihat video dari layar tidak memberi banyak kepastian tentang siapa yang benar-benar bicara.
Itu tidak berarti investasi online mustahil dipercaya.
Standar verifikasinya saja yang berubah.
Jangan percaya wajah.
Jangan percaya logo.
Jangan percaya grup ramai.
Jangan percaya screenshot profit.
Jangan percaya jargon AI.
Percaya pada entitas yang bisa diverifikasi, proses yang transparan, izin yang benar kalau dibutuhkan, risiko yang dijelaskan, dan jalur transaksi yang konsisten.
Kalau sebuah investasi hanya terlihat aman karena orang terkenal ada di videonya, lo belum melakukan due diligence.
Lo baru nonton iklan.
Ada satu tes sederhana sebelum investasi: tulis alasan kenapa produk ini layak tanpa menyebut nama figur yang mempromosikannya. Kalau thesis langsung runtuh ketika nama selebriti dihapus, berarti yang lo beli mungkin bukan analisis, tapi authority bias.
Bandingkan juga dengan alternatif yang lebih boring. Kalau produk baru menjanjikan return jauh di atas instrumen umum dengan risiko yang katanya hampir nol, tanyakan kenapa opportunity sehebat itu perlu dipromosikan agresif lewat DM dan grup chat. Return tinggi biasanya datang bersama risiko, ketidakpastian, atau keterbatasan tertentu. Kalau semua risiko hilang dari presentasi, justru itu informasi penting.
Buat keluarga, ada gunanya menyepakati rule untuk investasi nominal besar. Misalnya semua transfer di atas batas tertentu didiskusikan dengan satu orang lain. Bukan karena orang lain selalu lebih pintar, tetapi second pair of eyes sering melihat red flag yang terlewat saat kita sedang excited.
Scammer menjual cerita. Investor perlu membeli bukti.
Bacaan terkait
Artikel ini berada dalam Online Scams & Digital Safety dan mengikuti metodologi editorial Undercover.id. Format terkait tersedia di Explainer teknologi dan kebijakan digital.