Scam Marketplace Makin Otomatis: Penjual dan Pembeli Sama-Sama Bisa Jadi Target

Kalau dengar scam marketplace, banyak orang langsung membayangkan seller palsu.

Barang murah.

Pembeli transfer.

Barang tidak datang.

Selesai.

Realitanya lebih luas.

Penjual juga bisa jadi korban.

Dan ketika AI membuat chat, gambar, deskripsi, review, serta personalisasi pesan semakin murah, dua sisi marketplace sama-sama punya surface risiko yang lebih besar.

FTC sudah lama mengingatkan bahwa penipu di marketplace bisa menarget pembeli maupun penjual. Untuk pembeli, salah satu rule paling penting adalah jangan pindah ke metode pembayaran di luar sistem marketplace kalau hal itu membuat perlindungan platform hilang. Untuk penjual, modus bisa berupa notifikasi pembayaran palsu atau klaim pembayaran berlebih yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Di 2026, pola lama ini mendapat mesin baru: automation.

Bayangin lo menjual kamera bekas.

Baru lima menit listing, ada chat.

“Mas masih ada? Saya ambil sekarang, nggak nego.”

Cepat.

Enak.

Buyer tidak banyak tanya.

Kemudian dia bilang pembayaran sudah dilakukan dan mengirim screenshot.

Ada logo bank.

Nama lo.

Nominal benar.

Dia minta barang segera dikirim karena kurir menunggu.

Jangan percaya screenshot.

Buka aplikasi bank atau payment system sendiri.

Pastikan dana benar-benar masuk.

AI atau editing tool bisa membuat bukti transfer palsu terlihat jauh lebih rapi daripada dulu.

Scammer tidak perlu ahli desain.

Mereka cuma perlu template yang terlihat plausible.

Ada versi lain.

Buyer bilang sudah bayar, tapi transaksi tertahan karena akun seller belum “premium”.

Kemudian ada email atau chat yang terlihat seperti marketplace meminta seller membayar biaya upgrade atau mengisi data kartu agar uang bisa dilepas.

Ini red flag.

Jangan mengikuti link dari buyer untuk mengakses “halaman pembayaran”.

Buka aplikasi marketplace sendiri.

Kalau transaksi nyata, statusnya harus ada di sistem resmi.

Rule ini sangat kuat: transaksi marketplace diverifikasi di marketplace.

Bukan dari screenshot.

Bukan dari chat.

Bukan dari email forward.

Bukan dari link yang dikirim lawan transaksi.

Scammer ingin membawa korban keluar dari sistem yang punya kontrol.

Bisa ke WhatsApp.

Bisa ke Telegram.

Bisa ke halaman pembayaran palsu.

Bisa ke transfer langsung.

FTC juga menekankan bahwa membayar di luar sistem marketplace bisa membuat buyer kehilangan protection yang sebenarnya tersedia di platform.

Buat seller, keluar platform juga menghilangkan jejak dispute.

Kalau buyer bilang, “chat WA aja biar cepat,” belum tentu scam.

Banyak orang Indonesia memang begitu.

Tapi semakin besar nominal, semakin berharga protection platform.

Convenience beberapa menit bisa mengorbankan mekanisme refund, dispute, tracking, atau evidence.

AI membuat social engineering di marketplace lebih scalable.

Scammer bisa membuat ratusan pesan yang menyesuaikan listing.

“Mas, ini size 42 bener?”

“Kak, ini masih garansi resmi?”

“Boleh same day ke Kuningan?”

Pesan relevan terasa seperti buyer real.

Dulu bot gampang dikenali karena pertanyaannya generik.

Sekarang language model bisa membaca judul listing dan menghasilkan chat kontekstual.

Jadi respons natural bukan proof.

Lihat perilaku transaksi.

Buyer atau seller yang legit biasanya tidak perlu membuat lo melewati jalur keamanan aneh.

Pembeli juga punya risiko sendiri.

AI bisa membantu membuat listing palsu terlihat sangat profesional.

Deskripsi detail.

Foto produk konsisten.

FAQ.

Testimoni.

Chat seller responsif.

Bahkan gambar barang bisa dibuat atau dimanipulasi.

Kalau lo beli laptop bekas, foto yang cantik tidak cukup.

Minta foto aktual dengan detail tertentu kalau platform memungkinkan.

Cek reputasi.

Baca review terbaru.

Lihat history seller.

Untuk barang mahal, gunakan metode pembayaran dan pengiriman yang punya proteksi.

Jangan transfer langsung hanya karena seller memberi diskon tambahan.

Diskon di luar platform sering digunakan untuk membuat buyer merasa mendapat deal eksklusif.

“Kalau direct transfer, potong Rp500 ribu.”

Bisa legit.

Bisa juga cara memindahkan risiko sepenuhnya ke buyer.

Tanya: potongan Rp500 ribu worth it dibanding kehilangan seluruh nilai barang?

Scam marketplace juga sering memakai urgency.

“Banyak yang chat.”

“Kalau sekarang transfer, gue hold.”

“Kurir udah standby.”

“Promo hanya sampai jam 12.”

Urgency mengurangi verification.

Kalau barang langka sekalipun, jangan mengorbankan semua kontrol.

Deal yang bagus tidak bagus kalau barangnya tidak ada.

Ada juga scam refund.

Seller atau buyer mengklaim transfer salah.

Misalnya buyer bilang tidak sengaja mengirim dua kali lalu meminta seller mengembalikan satu pembayaran.

Masalahnya, pembayaran kedua mungkin tidak pernah ada.

Mereka hanya mengirim notifikasi palsu.

Cek saldo nyata.

Jangan refund berdasarkan screenshot.

Kalau sistem marketplace punya refund flow, gunakan itu.

Semakin banyak proses dilakukan di luar platform, semakin sulit menentukan siapa benar.

Penjual bisa ditarget dengan fake courier juga.

Buyer bilang kurir tertentu akan pickup.

Kemudian ada link untuk “konfirmasi pengiriman”.

Link meminta login marketplace.

Begitu credential dimasukkan, akun seller diambil alih.

Scammer sekarang punya akses ke listing, chat, mungkin saldo, dan reputasi akun.

AI membuat halaman phishing lebih meyakinkan, tapi inti defense tetap sederhana.

Jangan login dari link yang dikirim stranger.

Buka aplikasi sendiri.

Untuk seller yang volume transaksinya tinggi, bikin rule internal.

Staf tidak boleh mengubah rekening payout dari chat.

Tidak boleh scan QR dari buyer.

Tidak boleh memberi OTP.

Tidak boleh mengirim barang sebelum status pembayaran resmi confirm.

Semua dispute harus masuk platform.

Bisnis kecil sering kehilangan uang bukan karena tidak punya cybersecurity tool, tapi karena prosedur operasional terlalu informal.

Marketplace scam juga bisa memakai fake review.

FTC mengingatkan bahwa rating dan review bisa palsu atau misleading, sehingga jangan hanya mengandalkan bintang.

AI membuat pembuatan review massal semakin murah.

Review bisa punya panjang berbeda.

Gaya bahasa berbeda.

Ada typo.

Ada foto.

Tidak lagi terlihat seperti 50 komentar copy-paste.

Jadi baca pola.

Apakah review tersebar dalam waktu wajar?

Apakah reviewer punya history?

Apakah komentar menyebut detail produk yang spesifik?

Apakah ada keluhan berulang?

Jangan cari kepastian absolut.

Cari kombinasi sinyal.

Untuk buyer barang preloved, lokasi juga bisa memberi konteks.

Seller mengaku di Pondok Indah tapi menolak semua opsi COD meskipun lo dekat.

Tidak otomatis scam.

Mungkin dia sibuk atau tidak nyaman bertemu orang.

Tapi kalau digabung dengan rekening atas nama berbeda, harga terlalu murah, dan pressure transfer, red flag menumpuk.

Security bukan satu indikator.

Security adalah pattern recognition.

Penjual juga harus hati-hati dengan buyer yang terlalu banyak meminta data.

“Untuk invoice, kirim KTP.”

“Untuk kurir, kasih OTP.”

“Untuk verifikasi pembayaran, scan QR.”

Tidak.

Data yang dibutuhkan transaksi harus proporsional.

Marketplace yang benar sudah punya sistem untuk banyak hal.

Kalau lawan transaksi membuat proses tambahan yang aneh, pause.

Ada juga task scam yang memakai narasi marketplace atau e-commerce.

OJK pada 2026 menghentikan beberapa entitas yang terindikasi melakukan modus part-time job atau deposit untuk mendapatkan komisi, termasuk skema yang berkaitan dengan pembuatan akun e-commerce dan penyetoran dana. Ini bukan sekadar jual-beli barang biasa, tapi menunjukkan bagaimana nama dan mekanisme e-commerce bisa dipakai sebagai bungkus fraud.

Rule-nya sama: pekerjaan atau komisi yang mengharuskan lo deposit uang sendiri perlu dicurigai.

Marketplace tidak otomatis membuat transaksi aman kalau alur sebenarnya sudah pindah ke luar platform.

Kalau sudah tertipu, jangan cuma report account.

Kalau uang berpindah melalui bank atau payment provider, hubungi penyedia tersebut segera.

IASC menyediakan jalur penanganan scam finansial yang menghubungkan korban dengan lembaga keuangan terkait untuk upaya pemblokiran dana. Tetap buat laporan ke penegak hukum untuk proses hukum.

Simpan chat.

Listing.

Username.

Nomor rekening.

Bukti transfer.

Link.

Screenshot status.

Semakin lengkap kronologi, semakin baik.

Untuk platform, AI sebenarnya juga bisa menjadi defense.

Deteksi pola chat.

Anomali akun.

Review palsu.

Payment behavior.

Device risk.

Semua bisa dianalisis.

Masalahnya ini perlombaan.

Platform pakai AI.

Scammer pakai AI.

Jadi pengguna tidak bisa menyerahkan seluruh keamanan kepada sistem.

Marketplace modern tetap membutuhkan satu kebiasaan lama: jangan mengambil keputusan berdasarkan cerita lawan transaksi.

Lihat sistem.

Pembayaran benar masuk atau tidak?

Status order benar ada atau tidak?

Akun benar atau tidak?

Proteksi platform masih aktif atau tidak?

Di 2026, scam marketplace mungkin lebih ramah, responsif, dan personalized.

Bot bisa terdengar seperti buyer asli.

Seller palsu bisa punya copy bagus.

Review bisa ramai.

Screenshot bisa rapi.

Semua permukaan transaksi menjadi lebih meyakinkan.

Tapi uang tetap pindah melalui mekanisme nyata.

Barang tetap harus benar-benar dikirim.

Account status tetap ada di platform.

Fokus pada titik yang bisa diverifikasi.

Penjual dan pembeli tidak perlu saling curiga sepanjang waktu.

Cukup jangan menyerahkan trust lebih cepat daripada sistem bisa membuktikannya.

Satu hal yang perlu dihindari adalah rasa malu ketika bertanya terlalu banyak. Buyer boleh memastikan status barang. Seller boleh memastikan pembayaran. Transaksi online memang membutuhkan sedikit friction karena kedua pihak tidak berada di ruangan yang sama. Orang legit biasanya bisa menerima proses verifikasi yang wajar.

Kalau lawan transaksi marah karena lo ingin cek aplikasi sendiri, itu justru data. Pressure untuk memindahkan keputusan dari sistem resmi ke chat pribadi adalah salah satu pola yang layak dicurigai.

Marketplace adalah tempat bertemu, bukan alasan untuk menghapus kehati-hatian. Semakin mahal barang dan semakin tidak biasa alurnya, semakin penting menjaga transaksi tetap di jalur yang bisa diaudit.

Marketplace adalah tempat bertemu, bukan alasan untuk menghapus kehati-hatian. Semakin mahal barang dan semakin tidak biasa alurnya, semakin penting menjaga transaksi tetap di jalur yang bisa diaudit.

Marketplace adalah tempat bertemu, bukan alasan untuk menghapus kehati-hatian. Semakin mahal barang dan semakin tidak biasa alurnya, semakin penting menjaga transaksi tetap di jalur yang bisa diaudit.

Marketplace adalah tempat bertemu, bukan alasan untuk menghapus kehati-hatian. Semakin mahal barang dan semakin tidak biasa alurnya, semakin penting menjaga transaksi tetap di jalur yang bisa diaudit.

Marketplace adalah tempat bertemu, bukan alasan untuk menghapus kehati-hatian. Semakin mahal barang dan semakin tidak biasa alurnya, semakin penting menjaga transaksi tetap di jalur yang bisa diaudit.

Scroll to Top