Desain Aplikasi untuk Anak Akan Berubah Setelah PP TUNAS

Selama bertahun-tahun, aturan perlindungan anak di internet sering dibayangkan sebagai urusan konten.

Pornografi diblok. Akun berbahaya ditutup. Komentar kasar dimoderasi.

Masalahnya, anak tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang muncul di layar.

Mereka juga dipengaruhi oleh bagaimana layar itu dirancang.

Tombol besar. Animasi. Streak. Auto-play. Infinite scroll. Daily reward. Badge. Loot box. Notifikasi.

Semua terlihat seperti detail produk.

Padahal detail itu bisa menentukan berapa lama anak tinggal di aplikasi, seberapa impulsif mereka klik, seberapa sering mereka kembali, dan seberapa sulit mereka berhenti.

PP TUNAS dan aturan pelaksanaannya membuat isu desain ini jauh lebih formal di Indonesia.

Keputusan Menteri Komdigi Nomor 142 Tahun 2026 secara eksplisit memasukkan elemen visual dan interaction pattern sebagai indikator apakah suatu produk, layanan, atau fitur mungkin digunakan atau diakses oleh anak.

Contohnya sangat spesifik.

Warna cerah.

Karakter kartun.

Animasi bounce atau sparkle.

Ikon mirip mainan.

Tombol “coba lagi” atau “unlock” tanpa friksi.

Infinite scroll.

Auto-play.

Poin.

Level.

Badge.

Streak.

Daily reward.

Loot box.

Ini menarik karena pemerintah tidak lagi hanya bertanya: “kontennya aman nggak?”

Pertanyaannya sekarang ikut menjadi: “produk ini dirancang supaya anak terus melakukan apa?”

Itu perubahan besar.

Safety mulai masuk product design

Selama ini product team punya KPI.

Daily active user.

Session length.

Retention.

Click-through rate.

Conversion.

Semua metric itu normal.

Tapi ketika user-nya anak, optimization bisa punya efek berbeda.

Meningkatkan session length mungkin bagus untuk bisnis.

Belum tentu bagus untuk anak.

Meningkatkan notification open rate bisa bagus untuk growth.

Belum tentu baik kalau notification mendorong compulsive checking.

PP TUNAS memaksa platform melihat trade-off itu.

Bukan berarti engagement menjadi ilegal.

Anak tetap boleh menikmati aplikasi.

Game boleh seru.

Video boleh menarik.

Tapi desain yang sengaja menghilangkan friksi perlu diperiksa lebih ketat.

Infinite scroll adalah contoh paling gampang

Dulu user membuka satu halaman.

Selesai.

Sekarang feed tidak punya akhir.

Scroll.

Scroll.

Scroll.

Tidak ada titik natural untuk berhenti.

Untuk orang dewasa saja susah.

Untuk anak yang kemampuan self-regulation-nya masih berkembang, efeknya bisa lebih kuat.

Karena itu infinite scroll masuk indikator desain dalam Kepmen 142/2026.

Ini tidak otomatis berarti infinite scroll dilarang.

Penting membedakan indikator dan larangan.

Namun keberadaannya menjadi sinyal bahwa produk perlu dinilai lebih serius dari perspektif anak.

Platform bisa merespons dengan banyak cara.

Time reminder.

Natural stopping point.

Default limit.

No endless feed untuk age band tertentu.

Alternative chronological feed.

Pilihan desain terbuka.

Yang penting child safety masuk decision.

Auto-play juga bakal makin dipertanyakan

Video selesai.

Video berikutnya langsung mulai.

User tidak perlu memilih.

Ini design friction kecil yang kelihatannya harmless.

Tapi efek kumulatif besar.

Auto-play mengubah aktivitas dari: “saya memilih menonton satu video”

menjadi: “saya tetap menonton sampai memutuskan berhenti.”

Default berubah.

Ini contoh bagaimana interface memengaruhi behavior.

Untuk anak, platform mungkin perlu membuat default lebih konservatif.

Auto-play off.

Atau pause setelah beberapa konten.

Atau reminder.

Tidak harus sama untuk semua usia.

Anak 7 tahun dan 17 tahun beda.

Age-appropriate design berarti control bisa bertahap.

Streak juga mulai terlihat berbeda

Streak adalah fitur yang mengatakan: “lo sudah 25 hari berturut-turut.”

Kalau hari ini tidak buka: streak hilang.

Ini powerful.

Buat belajar bahasa, streak bisa motivate.

Buat social platform, bisa menciptakan pressure.

Anak mungkin merasa harus buka setiap hari agar tidak kehilangan progress atau status.

Kepmen 142/2026 memasukkan streak dan daily reward sebagai contoh gamification yang menarik anak.

Again, bukan berarti semua streak dilarang.

Context matters.

Apakah membantu tujuan positif?

Apakah punishment kalau user tidak aktif?

Apakah ada pressure sosial?

Apakah desain mendorong penggunaan berlebihan?

Produk perlu melihat.

Loot box juga masuk radar

Ini penting untuk game.

Loot box memberikan reward acak.

Anak membeli atau mendapatkan kotak.

Isinya random.

Mechanic seperti ini sudah lama diperdebatkan global karena kemiripannya dengan gambling-like reinforcement.

Kepmen 142 menyebut loot box atau mystery box visual sebagai salah satu indikator gamifikasi yang menarik anak.

Untuk platform anak, monetization design akan makin diawasi.

Purchase confirmation.

Spending limit.

Parental approval.

Disclosure odds.

Age restriction.

Ini semua bisa menjadi bagian child-safe design.

Jangan hanya mengandalkan kartu kredit orang tua.

Anak bisa melakukan pembelian impulsif.

Product harus membantu mencegah.

Default privacy kemungkinan menjadi lebih kuat

Kalau aplikasi tahu user anak, setting aman seharusnya default.

Akun private.

Location off.

DM dari stranger dibatasi.

Tagging restricted.

Discovery terbatas.

Orang tua tidak perlu masuk 20 menu untuk mengaktifkan safety.

Ini prinsip safety by default.

Uni Eropa dalam guideline perlindungan minor di bawah Digital Services Act juga merekomendasikan private-by-default account dan control untuk mencegah kontak tidak diinginkan.

Itu bukan aturan Indonesia.

Tapi direction-nya sejalan.

Anak jangan dipaksa memilih opsi paling aman.

System should start safe.

Recommendation system juga akan berubah

Kalau platform tahu user anak, feed seharusnya tidak optimize engagement dengan formula sama seperti adult.

Konten yang meningkatkan watch time belum tentu baik.

Rabbit hole bisa membawa anak dari satu video ringan ke konten ekstrem.

Maka recommender untuk anak perlu parameter safety.

Explicit user signal.

Age appropriateness.

Diversity.

Downranking harmful pattern.

No recommendation tertentu.

Ini akan dibahas lebih dalam di artikel berikutnya, tapi satu hal jelas: desain feed adalah bagian product safety.

Bukan hanya machine learning problem.

Reporting harus lebih mudah

Anak melihat sesuatu mengganggu.

Apa yang dilakukan?

Report button harus jelas.

Block.

Mute.

Get help.

Jangan sembunyikan di tiga level menu.

Anak tidak punya patience seperti compliance officer.

Flow harus simple.

Visual.

Language age-appropriate.

Kalau report process terlalu ribet, safety control practically tidak ada.

Design safety harus diuji dengan anak.

Bukan hanya adult designer.

Ini penting.

Designer berusia 32 tahun di kantor Jakarta Selatan mungkin berpikir tombolnya obvious.

Anak 10 tahun belum tentu.

User research dengan child-safety safeguard diperlukan.

Parental control juga jangan seperti cockpit pesawat

Banyak parental dashboard terlalu kompleks.

Ada 40 toggle.

Orang tua akhirnya tidak menyentuh.

Desain setelah PP TUNAS seharusnya makin simple.

Waktu penggunaan.

Siapa boleh komunikasi.

Purchase.

Content age.

Privacy.

Beberapa control utama.

Preset.

“Mode anak 10-12.”

“Mode remaja 13-15.”

Orang tua bisa adjust.

Tidak harus mengerti semua technical setting.

Safety feature yang sulit dipakai bukan safety.

Age assurance akan ikut memengaruhi interface

Sebelum user masuk, platform mungkin perlu tahu age band.

Ini berarti onboarding berubah.

Tidak sekadar nama-email-password.

Mungkin ada: age declaration, verification, guardian consent.

Challenge-nya: jangan overcollect data.

Platform hanya perlu tahu age band kalau itu cukup.

Tidak perlu full identity.

Privacy by design harus ikut.

Kalau child safety membuat onboarding meminta KTP, selfie, KK, alamat, nomor sekolah, kita punya problem baru.

PP TUNAS harus mendorong safe design tanpa menciptakan data collection culture.

Product team harus kerja dengan privacy team sejak awal.

Design tidak bisa lagi dipisahkan dari legal

Dulu legal datang menjelang launch.

Review terms.

Sekarang product decision punya regulatory consequence.

Infinite scroll.

DM.

Streak.

Loot box.

Age gate.

Semua bukan sekadar UX.

Legal, trust and safety, privacy, dan product harus kerja bareng.

Ini bisa terasa berat.

Tapi justru membuat requirement lebih jelas.

Kalau product untuk anak, safety harus masuk PRD.

Bukan checklist akhir.

Safety requirement seperti: default private, no stranger DM, session reminder, purchase approval.

Engineering bisa build.

Ini lebih efektif daripada policy abstrak: “kami melindungi anak.”

Design system mungkin perlu versi berdasarkan usia

Platform besar bisa mulai punya design token untuk child mode.

Notification frequency beda.

Color bukan masalah utama, tapi interaction.

No autoplay.

No infinite feed.

Fewer nudges.

More confirmation.

Clear exit.

No deceptive countdown.

Design system child-safe.

Ini bisa menjadi standard internal.

Setiap feature baru automatically mengikuti.

Tidak perlu mengulang review dari nol.

Maturity.

Marketing ke anak juga berubah

Kalau iklan jelas ditujukan ke anak, itu menjadi indikator bahwa produk mungkin digunakan anak.

Artinya growth team juga kena impact.

Campaign tidak bisa bilang: “produk bukan untuk anak”

sementara iklannya penuh karakter anak dan ditempatkan di channel anak.

Product reality harus konsisten dengan legal position.

Regulator bisa melihat evidence.

Terms and conditions tidak cukup.

Ini sehat.

Karena perusahaan harus bertanggung jawab pada behavior nyata, bukan disclaimer.

Indonesia mulai masuk product regulation

Ini bigger picture.

PP TUNAS bukan cuma content moderation law.

Ia menyentuh architecture.

Design.

Age.

Feature.

Recommendation.

Interaction.

Ini menunjukkan pemerintah mulai mengatur internet melalui risiko produk.

Bukan hanya meminta konten ilegal dihapus.

Dan buat product designer, ini berarti pekerjaan mereka punya policy impact.

Mungkin lebih besar daripada yang mereka kira.

Desain Aplikasi untuk Anak Akan Berubah Setelah PP TUNAS karena child safety sekarang bukan lagi halaman “Safety Center” yang jarang dibuka.

Ia harus terasa di interface.

Di default.

Di flow.

Di notification.

Di recommendation.

Di purchase.

Di button.

Itu tantangan baru.

Aplikasi tetap harus enjoyable.

Anak tetap punya hak bermain, belajar, dan berkomunikasi.

Tapi objective produk tidak boleh hanya: “bagaimana bikin user bertahan selama mungkin?”

Untuk pengguna anak, pertanyaan tambahan harus selalu ada:

Ada satu area lain yang kemungkinan besar ikut berubah: eksperimen A/B. Banyak aplikasi menguji dua versi interface untuk melihat mana yang menghasilkan retention atau conversion lebih tinggi. Untuk user anak, eksperimen seperti ini tidak boleh hanya mengejar engagement. Product team perlu memasukkan safety metric.

Misalnya versi B membuat session time naik 25 persen karena tombol keluar dibuat kurang terlihat. Dari perspektif growth, itu menang. Dari perspektif child safety, justru bisa gagal.

Maka experimentation framework perlu guardrail. Beberapa pattern seharusnya tidak diuji kepada anak jika sejak awal berpotensi manipulatif. Yang lain boleh diuji tetapi dengan batas waktu, monitoring, dan review.

Desain onboarding juga akan ikut berubah. Terms panjang tidak membantu anak. Informasi tentang privacy, chat, purchase, dan parental control perlu dibuat singkat dan bertahap. Anak tidak perlu menerima seluruh legal document dalam satu layar, tapi perlu memahami hal yang relevan saat mengambil tindakan.

Ini prinsip just-in-time notice.

Ketika pertama kali ingin membuka fitur chat, jelaskan siapa yang bisa menghubungi.

Ketika ingin membeli item, jelaskan biaya.

Ketika ingin membuat post publik, jelaskan siapa yang bisa melihat.

Safety muncul pada momen keputusan.

Bukan hanya saat registrasi.

Accessibility juga perlu diperhatikan. Anak dengan disabilitas tidak boleh kehilangan akses karena safety control hanya dibuat untuk satu jenis interaction. Screen reader, caption, motor accessibility, dan cognitive accessibility perlu masuk desain.

PP TUNAS pada akhirnya bisa memaksa industri produk digital Indonesia menjadi lebih dewasa. Bukan hanya mengejar conversion tercepat, tetapi juga mengukur apakah interface menghormati kapasitas user yang berbeda.

“apakah desain ini membantu mereka menggunakan produk dengan sehat, atau justru membuat berhenti menjadi terlalu sulit?”

Kalau pertanyaan itu mulai masuk rapat product, PP TUNAS sudah mengubah sesuatu yang jauh lebih fundamental daripada sekadar batas usia.

Scroll to Top