AI Agent Membuat Keamanan Siber Punya Jenis User Baru: Mesin
Selama bertahun-tahun, security team mengenal beberapa jenis identity.
Employee.
Admin.
Contractor.
Service account.
Application.
Machine.
Sekarang datang kategori yang agak aneh.
AI agent.
Ia bukan manusia.
Tapi bisa bertindak seperti user.
Bisa membaca email.
Mengakses database.
Membuat ticket.
Menjalankan workflow.
Mengirim message.
Memanggil API.
Kadang bertindak atas nama user.
Kadang atas nama perusahaan.
Kadang atas nama dirinya sebagai service.
Ini membuat pertanyaan IAM lama perlu dijawab ulang.
Siapa sebenarnya yang melakukan action?
Pada Februari 2026, NIST membuka concept paper khusus Identity and Authorization of Software Agents. Fokusnya termasuk identification, authorization, auditing, non-repudiation, dan mitigasi prompt injection.
Ini sinyal kuat.
Agent identity bukan detail implementasi.
Ia menjadi problem security sendiri.
Microsoft pada Mei dan Juli 2026 juga menekankan bahwa setiap agent seharusnya punya unique, verifiable identity, scope permission yang sempit, named owner, auditability, serta lifecycle management.
Kenapa agent perlu identity sendiri?
Karena kalau semua action dicatat atas nama user manusia, kita kehilangan attribution.
Misalnya Budi memberi task:
“Tolong rapikan CRM hari ini.”
Agent kemudian mengubah 300 record.
Log hanya bilang Budi.
Apakah Budi mengubah manual?
Agent?
Rule mana?
Model version apa?
Sulit tahu.
Untuk accountability, action harus bisa mengatakan:
User Budi meminta.
Agent CRM-07 mengeksekusi.
Atas authority role tertentu.
Dengan permission tertentu.
Pada waktu tertentu.
Ini provenance.
Tanpa itu, security incident sulit dianalisis.
Agent sebagai user baru juga punya karakter berbeda.
Manusia tidur.
Agent bisa jalan 24 jam.
Manusia bekerja satu task.
Agent bisa menjalankan ribuan action.
Manusia biasanya sadar ketika pindah system.
Agent bisa chain API cepat.
Scale membuat permission mistake lebih berbahaya.
Kalau employee salah klik, mungkin satu record.
Kalau agent salah logic, bisa 10.000 record.
Makanya least privilege jauh lebih penting.
Jangan beri broad permission hanya karena agent “butuh fleksibilitas”.
Scope task.
Tool.
Data.
Duration.
Microsoft pada Juli 2026 menekankan just-in-time entitlement untuk agent, yaitu privilege diberikan hanya selama task atau waktu tertentu.
Ini lebih aman daripada credential permanen.
Agent selesai.
Access expire.
Principle ini familiar dari privileged access management.
Sekarang diterapkan ke AI.
Ada juga owner.
Setiap agent harus punya sponsor manusia atau team.
Kenapa?
Karena machine tidak bisa bertanggung jawab secara organisasi.
Kalau agent tidak punya owner, permission akan hidup selamanya.
Knowledge stale.
Model update.
No one reviews.
Zombie agent.
Security nightmare.
Inventory harus menyimpan owner.
Purpose.
Risk tier.
Last used.
Permission.
Connector.
Model.
Expiry.
Agent lifecycle mirip employee lifecycle.
Join.
Change.
Leave.
Agent dibuat.
Scope berubah.
Agent retired.
Ketika retired, credential harus dicabut.
Connector disconnect.
Memory dan data retention ditangani.
Jangan hanya delete UI.
Access di downstream system juga harus hilang.
Machine identity selama ini sudah punya problem service account yang lupa.
AI agent bisa memperbanyak.
1Password pada Mei 2026 menulis bahwa agent mempercepat credential sprawl karena menggunakan API key, service account, OAuth token, dan credential lain dalam skala machine, sering kali over-privileged dan long-lived.
Ini bukan theoretical.
Identity sprawl sudah problem sebelum AI.
Agent membuat volume dan churn lebih tinggi.
Traditional IAM dibangun terutama untuk login manusia.
Username.
Password.
MFA.
Session.
Agent tidak bekerja begitu.
Ia mungkin menggunakan token.
Workload identity.
API key.
Certificate.
Federation.
Service principal.
Credential tidak pernah diketik.
Authentication berlangsung programmatically.
Security team perlu visibility.
Tidak cukup melihat employee SSO.
Ada non-human identity landscape.
AI agent adalah bagian.
Ada juga delegated identity.
Agent bekerja atas nama user.
Ini tricky.
Permission user belum tentu permission agent.
User mungkin boleh membaca seluruh customer list.
Apakah agent juga boleh?
Maybe.
Tapi task hanya butuh lima customer.
Lebih aman agent mendapat subset.
Delegation should be narrower than source authority.
Ini konsep powerful.
Jangan copy seluruh privilege user ke agent.
Buat constrained delegation.
“Boleh membaca record customer 123 sampai 127 untuk task ini.”
Kalau infrastructure support.
Jika tidak, minimal tool layer harus enforce query scope.
Ada juga separation of duties.
Di finance, satu orang mungkin boleh membuat request tetapi tidak approve payment.
Agent tidak boleh menggabungkan dua role karena connector-nya punya full access.
Kalau agent bisa create dan approve, control internal runtuh.
Identity architecture harus preserve SoD.
Ini penting untuk regulated industry.
Bank.
Insurance.
Enterprise finance.
Agent bukan alasan bypass control.
Satu agent mungkin punya multiple tools dengan permission berbeda.
Effective permission bisa menjadi sulit dipahami.
Agent sendiri read-only ke system A.
Tool plugin punya write access ke system B.
Service account di connector punya admin.
Total blast radius lebih besar dari yang kelihatan.
Security perlu menghitung aggregate permission.
Microsoft 2026 guidance untuk least privilege agent bahkan menekankan review effective permission across roles, tools, dan downstream systems.
Ini detail penting.
Jangan hanya melihat role agent di platform utama.
Lihat seluruh chain.
Agent juga bisa membuat agent lain atau task delegation.
Agent-to-agent workflow akan semakin common.
Siapa authority turunannya?
Kalau parent agent punya permission X, child mendapat apa?
Apakah inheritance?
Apakah delegated subset?
Bagaimana audit?
Ini belum mature di banyak architecture.
NIST focus pada standards dan interoperability relevan di sini.
Machine society butuh identity protocol.
Tanpa itu, agent ecosystem bisa jadi spaghetti permission.
Ada juga non-repudiation.
Kalau agent melakukan action, perusahaan perlu membuktikan.
Log harus cukup.
Identity.
Request.
Authorization.
Tool call.
Result.
Timestamp.
Correlation ID.
On-behalf-of user.
Ini bukan untuk menyalahkan mesin.
Untuk audit.
Jika ada dispute, reconstruct.
Log “system updated record” tidak cukup.
System siapa?
Agent mana?
Rule apa?
Agent security juga perlu behavioral monitoring.
Manusia punya UEBA.
Agent juga bisa punya baseline.
Biasanya agent procurement mengakses supplier data.
Tiba-tiba membuka HR files.
Anomaly.
Biasanya kirim 20 API call per jam.
Tiba-tiba 5.000.
Anomaly.
Behavior analysis bisa membantu detect compromised atau misconfigured agent.
Microsoft Agent 365 pada 2026 juga mendorong centralized visibility untuk agent sprawl, over-privilege, tool misuse, dan misconfiguration.
Ini mengarah ke security operation baru.
SOC tidak hanya monitor users dan endpoints.
Monitor agents.
Ada kemungkinan future dashboard:
Agent risk score.
Permission.
Unusual action.
Prompt injection alert.
Data access.
Credential usage.
Model change.
Incident.
Ini kategori workload baru.
AI agent juga memperluas attack surface melalui memory.
Agent mungkin punya long-lived context.
Preference.
Task history.
Credential reference.
File.
Jika memory compromised, attacker mendapat lebih dari satu session.
Microsoft 2026 guidance menyarankan membatasi long-lived context dan hanya menyimpan yang perlu.
Identity lifecycle harus mencakup memory lifecycle.
Ketika agent retired, memory bagaimana?
Ketika user pindah department, agent memory masih berisi old data?
Access should change.
Data should be re-evaluated.
Ini belum biasa di IAM tradisional.
Ada juga authentication action.
Agent perlu login ke website.
Jangan kasih password plain text.
Gunakan credential broker.
Atau federated token.
Short-lived.
Scoped.
1Password pada 2026 mengembangkan credential broker dan integration agentic yang menjaga secret di luar model.
Ini pattern bagus.
Agent boleh menggunakan identity.
Tidak harus mengetahui secret.
Seperti valet key.
Cukup untuk tugas tertentu.
Bukan master key.
Untuk developer, identity harus dirancang sejak awal.
Jangan buat MVP dengan satu API key admin lalu bilang nanti security belakangan.
Pilot sering jadi production.
Credential hardcoded hidup lama.
Scope tidak pernah diperbaiki.
Technical debt berubah menjadi security debt.
Buat dedicated identity sejak pertama.
Even if simple.
Named owner.
Minimal permission.
Log.
Expiry.
Ini membuat scale lebih aman.
Untuk company, governance juga harus menetapkan siapa boleh membuat agent.
Kalau semua employee bisa create agent dengan connector bebas, shadow agent tumbuh.
Tidak harus ban.
Punya registration.
Auto-discovery.
Risk tier.
Approved tool.
Low-risk self-service.
High-risk review.
Agent creation menjadi lifecycle event.
Seperti deploy application.
Ada balance.
Kalau governance terlalu berat, user akan memakai tool luar.
Kalau terlalu longgar, sprawl.
Paved road.
Buat jalan yang mudah dan aman.
NIST pada 2026 menyimpulkan prinsip cybersecurity fundamental tetap relevan untuk agent, tetapi perlu adaptation.
Identity adalah contoh sempurna.
Kita sudah tahu least privilege.
MFA.
PAM.
Audit.
Access review.
Offboarding.
Sekarang pertanyaannya bagaimana menerapkannya ke actor yang bukan manusia, bekerja probabilistically, dan bisa mengambil banyak action.
AI agent adalah user baru.
Tapi jangan perlakukan persis seperti manusia.
Machine punya speed berbeda.
Scale berbeda.
Memory berbeda.
Credential berbeda.
Decision process berbeda.
Human oversight juga berbeda.
Security architecture harus mengakui.
Ada satu kalimat sederhana untuk CISO.
Setiap agent yang bisa melakukan action harus bisa dijawab lima pertanyaan:
Siapa dia?
Siapa owner-nya?
Apa yang boleh dia akses?
Atas authority siapa dia bertindak?
Bagaimana mematikannya?
Kalau salah satu tidak jelas, identity governance belum cukup.
Masa depan cyber security bukan hanya people, process, technology.
Ada actor tambahan.
Machine yang bisa berpikir cukup untuk memilih action.
Dan ketika machine menjadi user, IAM tidak lagi sekadar login management.
Ia menjadi sistem yang menentukan seberapa jauh keputusan AI boleh menjadi kenyataan.
Ada satu konsekuensi praktis lain: access review agent perlu lebih sering daripada manusia. Employee role mungkin berubah beberapa kali setahun. Agent configuration bisa berubah setiap minggu karena tool baru ditambahkan. Effective permission bisa membesar tanpa ada satu perubahan role yang kelihatan besar.
Setiap material change seharusnya memicu re-review.
Tambah connector.
Tambah tool.
Tambah data source.
Tambah ability write.
Semua bisa mengubah risk tier.
Identity governance yang hanya review tahunan terlalu lambat untuk agentic environment.
Security team juga perlu membedakan agent yang autonomous dan assistive. Agent read-only yang hanya memberi recommendation punya identity risk lebih rendah dibanding agent yang bisa execute. Inventory harus mencatat level autonomy, bukan hanya nama agent.
Ini membantu prioritization.
Tidak semua machine user perlu treatment sama.
Dan kalau organisasi mulai punya ratusan agent, naming convention juga penting. Nama lucu seperti “Finance Buddy” tidak cukup untuk audit. Perlu identifier yang menunjukkan owner, environment, dan purpose.
Hal-hal administratif seperti ini terasa kecil sampai incident terjadi.
Saat itu security team perlu mencari cepat siapa agent, credential apa, dan system mana yang harus diputus.
Machine user membutuhkan hygiene yang sama disiplin dengan server dan service account, plus tambahan untuk model behavior.
Bacaan terkait
Artikel ini berada dalam Cybersecurity & Trust dan mengikuti metodologi editorial Undercover.id. Format terkait tersedia di Explainer teknologi dan kebijakan digital.