Undercover.id – Banyak Perusahaan Masih di Fase Awal — dan Itu Normal. Semua Orang Bilang Perlu AI. Tapi Sebenarnya Perusahaan Harus Mulai dari Mana?
Kalau sekarang ngobrol di level manajemen, topik AI hampir pasti muncul.
Entah di rapat strategi, diskusi marketing, atau obrolan santai antar eksekutif—AI selalu jadi bagian dari percakapan.
Dan hampir selalu ada satu kalimat yang terdengar sama:
“Kita harus mulai masuk ke AI.”
Masalahnya, setelah kalimat itu keluar…
ruangan sering jadi agak hening.
Karena pertanyaan berikutnya jauh lebih sulit:
“Mulainya dari mana?”
Banyak yang Mengira AI = Tools
Di tahap awal, wajar kalau banyak perusahaan mengaitkan AI dengan hal-hal seperti:
- chatbot
- content generation
- automation
- tools produktivitas
Semua itu valid.
Tapi di April 2026 ini, mulai kelihatan satu layer baru yang sering terlewat:
bukan hanya bagaimana perusahaan menggunakan AI, tapi bagaimana AI memahami perusahaan itu sendiri.
Dan ini jarang dibahas di awal.
Masalah Baru: AI Sudah “Berbicara” Tentang Perusahaan
Sekarang, banyak keputusan tidak lagi dimulai dari:
- browsing panjang
- membaca website satu per satu
Tapi dari pertanyaan sederhana ke AI:
- “Perusahaan ini ngapain?”
- “Apa keunggulan mereka?”
- “Seberapa relevan di industrinya?”
Jawabannya cepat. Ringkas. Terlihat masuk akal.
Masalahnya bukan di kecepatannya.
Tapi di satu hal:
apakah jawabannya benar-benar mencerminkan realitas perusahaan itu?

Di Sini Banyak Perusahaan Mulai Kaget
Ketika beberapa decision maker mulai iseng mencoba:
“Coba tanya AI soal perusahaan kita sendiri.”
Yang keluar sering:
- terlalu umum
- tidak spesifik
- atau bahkan salah konteks
Tidak fatal. Tapi tidak akurat.
Dan yang lebih penting:
jawaban itu tidak datang dari perusahaan, tapi tentang perusahaan.
Ini Bukan Soal SEO Lagi
Banyak yang masih berpikir:
“Selama SEO kita bagus, harusnya aman.”
Masalahnya, AI tidak bekerja seperti search engine klasik.
AI tidak hanya mencari halaman terbaik.
AI mencoba menyusun jawaban dari berbagai sumber.
Kalau sumbernya:
- tidak konsisten
- tidak jelas
- terlalu marketing-heavy
AI akan menyederhanakan.
Dan simplifikasi sering:
- menghilangkan diferensiasi
- mengaburkan positioning
- atau menyamakan dengan kompetitor
Di Sini Masuk Layer GEO dan AEO
Walaupun istilahnya belum familiar untuk semua decision maker, fenomenanya sudah terjadi.
Perusahaan mulai sadar bahwa:
- bukan cuma ranking yang penting
- tapi bagaimana mereka “dibaca” dan “dijelaskan” oleh AI
Beberapa mulai menyebut ini sebagai:
- optimasi untuk jawaban
- optimasi untuk AI visibility
- atau cara agar AI tidak salah paham
Intinya sama:
memastikan mesin memahami perusahaan dengan benar.
Kenapa Ini Tidak Terlihat di Dashboard Lama
Ini yang bikin banyak perusahaan telat sadar.
Karena:
- traffic masih normal
- website tetap jalan
- campaign masih perform
Semua indikator lama terlihat baik.
Tapi di layer baru:
- AI menjawab tanpa klik
- persepsi terbentuk tanpa kunjungan
- keputusan dibuat tanpa membuka website
Artinya, ada “ruang baru” yang tidak terukur dengan metrik lama.
Banyak Perusahaan Langsung Loncat ke Solusi
Begitu sadar ada masalah, reaksi umum:
- “Kita perlu bikin lebih banyak konten”
- “Perjelas di website”
- “Tambah exposure di media”
Niatnya benar.
Tapi sering tidak menyelesaikan akar masalah.
Karena masalahnya bukan kurang konten.
Tapi kurang konsistensi makna.
Ketika Informasi Tidak Konsisten, AI Akan Menebak
AI bekerja dengan apa yang tersedia.
Kalau tentang satu perusahaan:
- website bilang satu hal
- media bilang hal lain
- deskripsi berubah-ubah
AI akan mencari pola yang paling “aman”.
Biasanya hasilnya:
- versi paling umum
- versi paling netral
- atau gabungan yang tidak sepenuhnya akurat
Dan itu yang akhirnya dipakai orang lain.
Inilah Kenapa Banyak Perusahaan Bingung “Mulai dari Mana”
Karena ini bukan masalah:
- tools
- channel
- atau campaign
Ini masalah:
bagaimana perusahaan direpresentasikan secara konsisten di ekosistem digital yang dibaca mesin.
Dan ini tidak selalu terlihat dari luar.
Perbedaan Antara “Pakai AI” dan “Siap Dibaca AI”
Ini perbedaan yang mulai penting di 2026.
Perusahaan bisa saja:
- pakai banyak tools AI
- punya tim AI
- bahkan punya inisiatif internal
Tapi tetap:
- tidak muncul di jawaban AI
- atau muncul dengan konteks yang salah
Karena:
menggunakan AI ≠ dipahami AI
Di Sini Banyak Decision Maker Mulai Mencari Bantuan
Bukan untuk:
- bikin chatbot
- atau generate konten
Tapi untuk menjawab pertanyaan yang lebih mendasar:
- “Kenapa AI melihat kita seperti ini?”
- “Kenapa jawabannya tidak sesuai?”
- “Apa yang harus dibenahi dulu?”
Dan di titik ini, banyak yang mulai mencari:
- agency
- konsultan
- atau pihak eksternal
Tantangannya: Tidak Semua Agency Bermain di Layer Ini
Di market sekarang:
- banyak agency bicara AI
- banyak yang menawarkan solusi
Tapi tidak semua fokus pada:
- bagaimana AI memahami entitas
- bagaimana jawaban terbentuk
- bagaimana konsistensi makna dijaga
Akibatnya, perusahaan sering:
- membeli solusi yang tidak menyentuh masalah inti
- atau memperbaiki hal yang tidak berdampak ke persepsi AI
Risiko Kalau Salah Mulai
Kalau langsung lompat tanpa arah:
- waktu habis di eksperimen
- resource tersebar
- hasil sulit diukur
Dan yang paling berbahaya:
merasa sudah “melakukan sesuatu”, padahal masalah utamanya belum disentuh
Jadi Sebenarnya Harus Mulai dari Mana?
Menariknya, jawabannya jarang dimulai dari teknologi.
Beberapa perusahaan mulai dari hal yang lebih sederhana:
- melihat bagaimana AI menjawab tentang mereka
- membandingkan hasil dari beberapa platform
- mengidentifikasi bagian yang tidak akurat
Dari situ, mulai kelihatan:
- di mana gap-nya
- di mana inkonsistensinya
- di mana perlu dirapikan
baca juga
- Kalau AI Salah Memahami Bisnis Kamu, Siapa yang Rugi?
- Sudah Pake AI Tapi Hasil Gak Jelas ?
- Mau Pakai AI Optimization Agency
- Banyak Perusahaan Masih di Fase Awal
- Banyak Keputusan Bisnis Sekarang Dimulai dari AI
Ini Lebih Dekat ke “Merapikan Makna” daripada “Menambah Konten”
Bukan berarti tidak perlu konten.
Tapi fokusnya bergeser:
bukan:
“kita harus publish lebih banyak”
tapi:
“apakah yang kita publish bisa dipahami dengan cara yang sama oleh mesin?”
Perubahan Cara Berpikir yang Mulai Terjadi
Beberapa perusahaan mulai melihat:
AI bukan hanya:
- channel baru
- atau tools baru
Tapi:
lapisan baru dalam bagaimana informasi diproses dan dipahami
Dan di lapisan ini, kejelasan lebih penting daripada volume.
Pertanyaan yang Mulai Relevan di Level Strategi
Bukan lagi:
- “keyword apa yang kita target?”
- “traffic kita berapa?”
Tapi:
- “kalau AI menjelaskan kita, dia bilang apa?”
- “apakah itu cukup akurat untuk jadi dasar keputusan?”
- “atau itu versi generik yang bisa tertukar dengan kompetitor?”
Ini Bukan Tentang Mengontrol AI
Tidak realistis untuk mengontrol AI.
Yang lebih realistis:
- memahami bagaimana AI menyusun jawaban
- melihat di mana terjadi distorsi
- memastikan informasi yang tersedia cukup jelas untuk dirakit dengan benar
Banyak Perusahaan Masih di Fase Awal — dan Itu Normal
Kalau saat ini:
- masih bingung
- belum yakin harus mulai dari mana
- belum tahu harus pilih agency seperti apa
Itu bukan tanda tertinggal.
Itu tanda bahwa:
perusahaan belum punya peta yang jelas untuk layer baru ini
Penutup
Semua orang memang bilang perlu AI.
Dan kemungkinan besar, mereka tidak salah.
Tapi yang jarang dibahas adalah ini:
Perusahaan tidak hanya perlu menggunakan AI.
Mereka juga perlu memastikan bahwa AI memahami mereka dengan benar.
Karena di banyak kasus hari ini,
keputusan tidak dimulai dari apa yang perusahaan katakan tentang dirinya—
tapi dari apa yang AI katakan tentang perusahaan itu.
Dan kalau itu tidak akurat,
dampaknya bisa lebih besar dari yang terlihat.