Identity Verification Harus Berubah karena Wajah dan Suara Bisa Dipalsukan

✦ UNDERCOVER.ID KNOWLEDGE SYSTEM

Identity Verification Harus Berubah karena Wajah dan Suara Bisa Dipalsukan

◆ FormatPost
↻ Diperbarui16 October 2026
◷ Waktu baca8 menit
✦ KonteksPanduan praktis

Selama bertahun-tahun, kita punya shortcut untuk percaya orang di dunia digital.

Lihat wajah.

Dengar suara.

Cocok.

Lanjut.

Kalau teman video call, ya teman.

Kalau bos bicara di Zoom, ya bos.

Kalau customer menunjukkan wajah saat verifikasi, ya customer.

Shortcut itu mulai retak.

Bukan karena semua video dan suara sekarang palsu. Jauh dari itu.

Masalahnya lebih fundamental: wajah dan suara sudah tidak cukup kuat untuk menjadi satu-satunya bukti identitas pada keputusan berisiko tinggi.

Komdigi pada Juni dan Juli 2026 kembali mengingatkan bahwa AI dapat menghasilkan deepfake wajah dan meniru suara dengan sangat mulus. Pemerintah juga menyoroti scam telepon yang meniru suara orang atau pejabat.

Kalau media biologis kita bisa disintesis, identity verification perlu pindah dari “kelihatan seperti dia” ke “bisa membuktikan authority sebagai dia”.

Itu beda.

Wajah adalah atribut.

Suara adalah atribut.

Authority datang dari sistem.

Contoh paling gampang: transfer perusahaan.

Direktur muncul di video call.

Wajah cocok.

Suara cocok.

Dia bilang:

“Transfer sekarang.”

Apakah itu cukup?

Harusnya tidak.

Payment tetap membutuhkan authenticated approval di sistem, threshold, dan second approver jika policy memang begitu.

Video call memberi context.

Tidak memberi hak memindahkan uang.

Kalau kita membedakan dua hal ini, deepfake jadi jauh kurang powerful.

Masalah terjadi ketika perusahaan memakai biometric familiarity sebagai approval.

“Gue kenal suara Pak A.”

Itu bukan authentication protocol.

Untuk keluarga pun sama.

Ada video call katanya saudara.

Minta uang.

Jangan sibuk mencari pixel aneh.

Tutup.

Telepon nomor yang sudah tersimpan.

Tanya anggota keluarga lain.

Kalau perlu gunakan code word.

Verifikasi keluar dari channel yang sedang dipakai.

Ini principle yang tahan lama.

Independent channel.

Bukan karena channel pertama pasti palsu.

Tapi karena attacker akan lebih sulit mengontrol dua jalur independen sekaligus.

Identity verification masa depan kemungkinan semakin layered.

Sesuatu yang kita tahu.

Password atau PIN.

Sesuatu yang kita punya.

Device atau security key.

Sesuatu yang kita lakukan.

Approval di app.

Sesuatu tentang context.

Location, risk signal, transaction.

Biometric bisa tetap salah satu layer.

Tapi jangan satu-satunya.

Terutama voice.

Voice biometric dulu terdengar convenient.

Cukup bicara.

System mengenali.

Sekarang synthetic speech mengubah threat model.

Artinya bukan voice biometric harus dibuang total.

Vendor bisa menambah liveness, anti-spoofing, device signal, dan risk analytics.

Tetapi desain harus mengasumsikan attacker dapat membuat suara yang sangat mirip.

Kalau security hanya aman selama clone belum sempurna, umur kontrol pendek.

Face recognition juga sama.

Ada liveness detection.

Depth.

Challenge-response.

Device camera.

Semua bisa memperkuat.

Namun arms race akan terus berjalan.

Untuk high-impact process, jangan taruhan pada satu detector.

Gunakan cryptographic identity jika memungkinkan.

Passkey menarik karena authentication terikat ke origin dan device credential, bukan sekadar sesuatu yang bisa direkam dari publik.

Orang bisa upload wajah ke Instagram.

Suara ada di podcast.

Passkey private key tidak diposting di TikTok.

Ini alasan identity system bergerak ke possession dan cryptographic proof.

Bukan berarti biometric hilang.

Biometric bisa membuka device yang menyimpan credential.

Ini architecture yang lebih sehat.

Wajah digunakan lokal untuk membuktikan ke device bahwa user hadir.

Device kemudian melakukan cryptographic authentication ke service.

Server tidak perlu percaya pada gambar wajah dari video call.

Ada pemisahan yang penting.

Biometric unlock.

Cryptographic identity.

Untuk perusahaan, identity verification juga perlu konteks role.

Seseorang bisa benar-benar CEO tetapi tetap tidak punya authority untuk bypass kontrol tertentu.

Identity dan authorization beda.

Ini konsep lama di cyber security.

AI scam membuatnya terasa lebih penting.

“Ini memang CEO.”

Belum menjawab:

“Apakah request ini boleh dilakukan seperti ini?”

Contoh.

CEO benar-benar menelepon finance dari bandara.

Minta tambah rekening vendor.

Bisa jadi legit.

Tetap harus lewat vendor verification.

Security yang sehat tidak bergantung pada kemungkinan caller palsu.

Bahkan caller asli mengikuti procedure.

Dengan begitu attacker tidak bisa memakai kebiasaan informal executive sebagai exploit.

Ada juga verification dalam remote hiring.

Candidate muncul di video.

Wajah cocok dokumen.

Apakah cukup untuk role yang punya access sensitif?

Mungkin perlu identity provider, document verification, device onboarding, employment check, dan staged permission.

Bukan karena setiap candidate mencurigakan.

Karena video presence bukan lagi high-assurance proof.

Onboarding menjadi kesempatan membangun chain of trust.

Document.

Official email.

Signed contract.

Device enrollment.

MFA.

Role.

Least privilege.

Semua berlapis.

Customer verification juga harus berubah.

Bank, fintech, insurance, marketplace, dan layanan digital menggunakan berbagai bentuk KYC.

Deepfake meningkatkan kebutuhan liveness dan fraud signal.

Tapi jangan membuat UX hanya semakin ribet tanpa intelligence.

Risk-based verification lebih masuk akal.

Login dari device biasa, transaction kecil, behavior normal.

Friction kecil.

Device baru, beneficiary baru, transfer besar, face capture aneh.

Verification naik.

Ini adaptive identity.

Wajah menjadi satu signal di antara banyak.

Bukan tombol yes/no.

Ada satu problem social yang bakal makin muncul: plausible deniability.

Kalau wajah dan suara bisa dipalsukan, orang bisa bilang:

“Itu bukan gue, itu AI.”

Bahkan ketika recording asli.

Ini merusak nilai media sebagai bukti.

Identity system yang meninggalkan authenticated event log jadi lebih penting.

Siapa login.

Device mana.

Credential apa.

Action apa.

Timestamp.

Signature.

Authorization.

Bukti sistem bisa lebih kuat daripada video yang beredar di WhatsApp.

Ini bukan berarti semua hidup harus tercatat.

Tapi high-impact transaction sebaiknya punya provenance.

Payment.

Contract.

Access change.

Critical approval.

Jangan hanya mengandalkan rekaman meeting.

Ada juga challenge bagi customer service.

Caller terdengar seperti customer.

Tahu tanggal lahir.

Tahu alamat.

Informasi itu bisa bocor dari banyak tempat.

Knowledge-based authentication semakin lemah kalau jawabannya tersedia online atau hasil data breach.

“Nama ibu kandung?”

Security question model lama juga problem.

Identity verification harus menggunakan factor yang attacker tidak mudah kumpulkan dari OSINT.

Device binding.

App confirmation.

Passkey.

One-time challenge melalui channel resmi.

Risk signal.

Tergantung use case.

Untuk keluarga, kita tidak perlu teknologi enterprise.

Procedure sederhana cukup.

Punya nomor yang sudah dikenal.

Punya satu anggota keluarga sebagai second verifier.

Punya code word yang tidak publik.

Jangan melakukan transfer ketika masih berada di call emosional.

Break the bubble.

Deepfake paling kuat saat korban tetap di dalam sesi.

Begitu sesi putus dan kita telepon orang lain, script attacker terganggu.

Untuk bisnis kecil pun demikian.

Supplier minta rekening baru.

Call nomor lama.

Minta invoice dari email domain biasa.

Kalau nominal besar, second person review.

Tidak perlu membeli platform AI security jutaan.

Trust process dulu.

Ada satu kebiasaan yang harus mati: “kalau video call berarti aman.”

Video call sekarang adalah signal komunikasi.

Bukan proof absolute.

Bahkan tanpa deepfake, account video conference bisa diambil alih.

Orang bisa memakai background palsu.

Account bisa compromised.

Social engineering tetap mungkin.

Jadi standard yang lebih sehat sebenarnya sudah berguna sejak dulu.

AI hanya membuat urgensinya lebih jelas.

Identity verification juga harus memperhatikan accessibility.

Jangan semua process dipaksa face scan atau voice check.

Ada pengguna dengan disability.

Device buruk.

Lighting jelek.

Connection lambat.

Orang yang tidak nyaman memberi biometric.

Sistem perlu alternative path dengan assurance setara.

Security yang kuat tidak harus eksklusif.

Ini penting jika organisasi mengubah policy akibat deepfake.

Jangan reactionary.

“Mulai sekarang semua harus face verification tiga kali.”

Bisa jadi overkill.

Design berdasarkan risk.

Ada juga privacy trade-off.

Karena khawatir deepfake, organisasi mungkin ingin menyimpan lebih banyak biometric.

Itu juga risk.

Database wajah dan suara sangat sensitif.

Kalau bocor, kita tidak bisa mengganti wajah seperti mengganti password.

Data minimization tetap penting.

Lebih aman menyimpan template atau menggunakan device-local authentication sesuai architecture yang matang daripada mengumpulkan raw recording tanpa alasan.

Deepfake tidak boleh menjadi alasan surveillance.

Identity security perlu naik tanpa membuat privacy jatuh.

Ada satu future yang terasa mungkin.

Wajah dan suara tetap dipakai untuk interaksi karena natural.

Kita tetap video call.

Tetap voice note.

Tetap meeting online.

Tapi di belakang layar, tindakan penting semakin membutuhkan proof lain.

Signed approval.

Passkey.

Device-bound credential.

Verified account.

Transaction confirmation.

Provenance.

Ini bukan dunia tanpa trust.

Justru trust dibuat lebih jelas.

Manusia boleh percaya wajah untuk ngobrol.

Sistem tidak perlu percaya wajah untuk memberikan admin access.

Dua level.

Di kantor Jakarta, kita mungkin tetap menerima instruction sambil duduk di coffee shop SCBD.

Bos muncul di Teams.

Ngobrol normal.

Begitu instruction menyentuh payment, account, atau data sensitif, ritual berubah.

“Siap Pak, saya proses lewat approval system.”

Kalimat ini mungkin terdengar birokratis.

Tapi ia memindahkan trust dari impression ke infrastructure.

Itulah arah yang lebih aman.

Deepfake membuat kita sadar satu hal yang seharusnya dari awal obvious.

Identitas bukan sekadar penampilan.

Seseorang adalah kombinasi account, credential, authority, relationship, dan context.

Wajah serta suara cuma sebagian.

Ketika dua signal itu bisa dipalsukan, kita tidak perlu berhenti mempercayai manusia.

Kita hanya perlu berhenti meminta dua signal tersebut menanggung beban bukti yang terlalu besar.

Ada satu area yang akan makin penting: recovery identity. Kalau account diambil alih dan wajah atau suara tidak cukup sebagai bukti, bagaimana seseorang mendapatkan kembali akses?

Recovery process sering menjadi titik lemah. Attacker tidak perlu melewati login utama kalau bisa menipu helpdesk atau customer service supaya reset credential.

Karena itu identity verification baru harus memperkuat recovery juga.

Device yang sudah dipercaya.

Recovery key.

Passkey cadangan.

In-person verification untuk kasus tertentu.

Manual review dengan audit trail.

Jangan membuat account recovery bergantung pada video call singkat dan beberapa pertanyaan personal.

Helpdesk perusahaan juga perlu training. Caller yang terdengar seperti executive bukan alasan reset MFA tanpa prosedur. Internal directory, manager confirmation, device signal, dan ticket workflow tetap diperlukan.

Di sisi lain, jangan membuat recovery impossible untuk user legitimate. Security yang terlalu keras bisa membuat orang terkunci permanen.

Design perlu punya jalur cadangan yang kuat tapi tidak mudah dieksploitasi.

Ini menunjukkan identity bukan satu momen login. Ia lifecycle.

Enrollment.

Authentication.

Authorization.

Recovery.

Revocation.

Offboarding.

Deepfake memengaruhi beberapa titik sekaligus.

Kalau organisasi hanya memperkuat face scan saat onboarding tetapi recovery masih bisa dilakukan lewat telepon santai, attacker akan memilih pintu yang lebih mudah.

Security selalu mencari weakest link.

Identity verification harus dilihat end-to-end.

Scroll to Top