Regulasi AI Global Mulai Menyentuh Konten, Hak Cipta, dan Agent

✦ UNDERCOVER.ID KNOWLEDGE SYSTEM

Regulasi AI Global Mulai Menyentuh Konten, Hak Cipta, dan Agent

◆ FormatPost
↻ Diperbarui15 October 2026
◷ Waktu baca7 menit
✦ KonteksPanduan praktis

Dulu regulasi AI bisa terasa gampang diringkas.

Jangan diskriminatif.

Jaga privasi.

Kasih tahu kalau pakai AI.

Lakukan risk assessment.

Sekarang medan masalahnya jauh lebih messy.

AI bisa membuat gambar.

Meniru suara.

Menulis artikel.

Mengambil data dari web.

Menjalankan browser.

Membeli barang.

Mengirim email.

Memanggil API.

Menggunakan karya berhak cipta.

Membuat sub-agent.

Bertindak tanpa manusia mengklik setiap langkah.

Hukum yang dibangun untuk software pasif sekarang harus menghadapi software yang bisa memproduksi sekaligus bertindak.

Itu sebabnya 2026 menjadi tahun ketika regulasi AI global makin menyentuh tiga wilayah yang sebelumnya sering dibahas terpisah: konten, hak cipta, dan agent.

Ketiganya akhirnya bertemu di satu pertanyaan besar.

Kalau mesin bisa membaca karya manusia, membuat output baru, lalu bertindak di dunia digital, siapa punya hak apa dan siapa bertanggung jawab atas apa?

Konten AI masuk fase transparency

Eropa menjadi contoh paling jelas.

Mulai 2 Agustus 2026, transparency requirements di bawah EU AI Act masuk tahap berlaku.

Tujuannya antara lain membuat user lebih sadar ketika berinteraksi dengan AI dan ketika menghadapi jenis synthetic content tertentu.

Ini penting karena internet sedang mengalami krisis provenance.

Foto bisa dibuat AI.

Voice note bisa synthetic.

Video bisa deepfake.

Artikel bisa generated.

Review bisa otomatis.

Avatar bisa real-time.

Semakin bagus kualitas generatif, semakin sulit user mengandalkan mata dan telinga sebagai alat verifikasi.

Regulasi mencoba membuat lapisan tambahan.

Label.

Disclosure.

Machine-readable marking.

Bukan solusi sempurna.

Metadata bisa hilang.

Screenshot bisa memotong informasi.

Platform bisa melakukan transcoding.

Konten bisa diposting ulang.

Orang jahat tentu tidak selalu patuh.

Tapi arah regulasinya jelas: provenance mulai dianggap infrastructure of trust.

Internet perlu cara membedakan “ini berasal dari mana?” bukan hanya “ini terlihat meyakinkan atau tidak?”

Hak cipta belum selesai dengan pertanyaan training

Perdebatan AI dan copyright beberapa tahun terakhir banyak fokus pada training data.

Apakah model boleh belajar dari buku, artikel, gambar, atau musik tanpa lisensi eksplisit?

Apakah training termasuk fair use?

Apakah opt-out cukup?

Bagaimana licensing?

Siapa harus membayar?

Case hukum di berbagai negara masih membentuk batasnya.

Tapi di 2026 problem mulai melebar.

Agent tidak hanya belajar dari data.

Agent bisa secara aktif mengambil data.

Membaca website.

Scrape halaman.

Mengambil dokumen.

Meringkas paywall content.

Membandingkan katalog.

Mengunduh file.

Membuat derivative output.

Lalu melakukan action berdasarkan informasi itu.

Ini menciptakan apa yang beberapa peneliti sebut sebagai persoalan agentic copyright.

Bayangin agent diberi tugas, “Cari seluruh artikel terbaik tentang industri X, buat ringkasan lengkap, lalu kirim ke tim.”

Agent kemudian mengunjungi puluhan situs.

Sebagian gratis.

Sebagian berlisensi.

Sebagian melarang automated access.

Sebagian punya robots instruction.

Sebagian mengizinkan search engine tetapi bukan commercial AI agent.

Mana yang boleh diakses?

Mana yang boleh disimpan?

Mana yang boleh dikutip?

Mana yang boleh dipakai untuk keputusan komersial?

Hukum copyright tidak dirancang dengan asumsi jutaan software agent melakukan negosiasi akses secara otomatis.

Sekarang kita harus mengejar.

Website juga mulai melawan bot secara berbeda

Di internet lama, bot punya kategori cukup mudah.

Search crawler dianggap berguna.

Scraper agresif dianggap buruk.

Security bot punya fungsi.

Automation bot biasanya dibatasi.

Agentic internet mengacaukan kategori ini.

Misalnya AI agent milik user masuk ke website travel untuk membandingkan tiket.

Dia bukan manusia.

Tapi dia mewakili manusia yang mungkin membeli.

Haruskah website memblokirnya?

Kalau diblokir, merchant kehilangan customer.

Kalau dibiarkan, agent mungkin mengambil harga dan informasi dalam volume besar.

Bagaimana membedakan buyer agent dari scraper yang mau menyalin database?

Identity menjadi penting.

Authorization juga.

Begitu agent bisa menyatakan, “Saya mewakili user ini dan hanya ingin melakukan task ini,” website punya dasar lebih baik untuk memberi akses terbatas.

Makanya regulasi agent tidak bisa dipisahkan dari technical standards.

Hukum perlu tahu siapa aktornya.

Teknologi perlu menyediakan bukti.

Agent memunculkan kembali hukum perwakilan

Manusia sudah lama punya konsep agent dalam hukum.

Pengacara mewakili klien.

Broker bertindak untuk investor.

Karyawan bertindak untuk perusahaan.

Direktur menandatangani kontrak atas nama badan hukum.

Ada konsep authority.

Mandate.

Duty.

Liability.

AI agent secara intuitif mirip.

Dia bertindak atas nama manusia atau organisasi.

Tapi ada perbedaan besar.

AI tidak punya legal personality seperti manusia atau perusahaan.

Agent bisa salah memahami tujuan.

Agent bisa menghasilkan action yang tidak diprediksi.

Agent bisa didelegasikan ke agent lain.

Agent bisa berjalan sangat cepat.

Agent bisa berinteraksi ribuan kali tanpa manusia melihat.

Pertanyaan hukum lalu menjadi aneh.

Kalau user bilang, “Belikan tiket termurah yang masuk akal,” apakah agent punya authority memilih tiket non-refundable?

Kalau agent bisnis bernegosiasi harga dengan agent vendor, kapan kontrak dianggap terbentuk?

Kalau agent melanggar terms of service, tanggung jawab ada pada user, developer, atau operator?

Kalau agent memanggil sub-agent dan sub-agent melakukan kesalahan, chain of liability-nya bagaimana?

Pada 2026, paper hukum dan regulator mulai serius membahas pertanyaan seperti ini karena agent sudah masuk workflow nyata.

Hukum lama tidak otomatis useless.

Tapi perlu interpretasi baru.

Copyright akan membutuhkan machine-readable rules

Kalau internet agentic berkembang, manusia tidak mungkin melakukan licensing satu-satu untuk setiap access.

Skalanya terlalu besar.

Kita mungkin membutuhkan mekanisme yang lebih machine-readable.

Website bisa menyatakan jenis agent apa yang boleh masuk.

Untuk tujuan apa.

Konten mana yang boleh diproses.

Apakah commercial use diizinkan.

Apakah training diizinkan.

Apakah summarization diizinkan.

Apakah ada fee.

Agent lalu membaca policy dan memutuskan apakah boleh lanjut.

Konsep ini masih berkembang.

Belum ada satu standar global yang selesai.

Tapi direction-nya masuk akal.

Hukum membutuhkan expression layer yang bisa dipahami mesin.

Kalau tidak, seluruh ecosystem mengandalkan terms of service panjang yang bahkan manusia jarang baca.

Agent tidak boleh sekadar mengabaikan aturan karena “model tidak ngerti legal text”.

Compliance harus menjadi bagian dari protocol.

Kreator mulai menuntut value, bukan cuma attribution

Bagi kreator, masalah terbesar sering bukan apakah karya diberi label.

Masalahnya adalah ekonomi.

Kalau karya dipakai untuk membangun sistem AI bernilai miliaran dolar, apakah kreator menerima bagian?

Kalau AI menghasilkan substitusi yang mengurangi traffic ke website asli, siapa menikmati value?

Kalau agent menjawab pertanyaan dari puluhan artikel tanpa user mengunjungi publisher, business model publisher berubah.

Ini bukan hanya copyright technicality.

Ini distribution problem.

Media hidup dari traffic, subscription, advertising, licensing, atau kombinasi.

AI answer layer bisa mengambil fungsi discovery dan summarization yang sebelumnya mendorong user ke sumber.

Publisher kemudian punya beberapa pilihan.

Memblokir crawler.

Memberi akses terbatas.

Membuat licensing deal.

Membangun API.

Membuat content khusus subscriber.

Mengoptimalkan supaya tetap dikutip.

Tidak ada strategi universal.

Tapi regulasi akan ikut membentuk bargaining power antara platform dan pemilik konten.

Indonesia juga akan kena, bahkan tanpa aturan setebal Eropa

Kreator Indonesia hidup di ecosystem global.

Musisi.

Penulis.

Fotografer.

Media.

YouTuber.

Ilustrator.

Agency.

Influencer.

Developer.

Konten mereka bisa dibaca platform lintas negara.

Model yang mereka pakai juga berasal dari berbagai yurisdiksi.

Jadi walaupun regulasi Indonesia berbeda dari EU atau AS, efek aturan luar tetap bisa masuk.

Platform global mungkin mengubah interface.

Model provider mengubah terms.

Publisher tools berubah.

Content credentials menjadi lebih umum.

Agent access mulai dibatasi.

Licensing marketplace muncul.

Perusahaan Indonesia yang punya banyak intellectual property harus mulai memikirkan policy sendiri.

Apa konten boleh dipakai training?

Apa boleh diakses agent?

Bagaimana customer data?

Bagaimana employee menggunakan copyrighted material dengan AI?

Apakah output yang dibuat AI aman dipakai komersial?

Legal team tidak bisa lagi menjawab semua ini dengan satu policy generik: “Jangan upload data rahasia.”

Itu terlalu sempit.

Regulasi akan mengikuti behavior, bukan label produk

Ini prinsip penting.

Perusahaan suka memberi nama produknya dengan istilah aman.

Assistant.

Copilot.

Automation.

Recommendation engine.

Agent.

AI-powered.

Hukum biasanya tidak terlalu peduli branding.

Yang dilihat adalah fungsi.

Apakah sistem menghasilkan konten?

Apakah sistem memproses data personal?

Apakah sistem mengambil keputusan berisiko?

Apakah sistem bertindak atas nama user?

Apakah sistem mengakses copyrighted material?

Apakah synthetic media bisa menyesatkan?

Jadi mengganti nama “agent” menjadi “smart automation” tidak menghilangkan liability.

Kalau behavior-nya sama, risikonya tetap ada.

Ini juga berarti tim product perlu melibatkan legal lebih awal.

Bukan legal sebagai polisi yang datang di akhir.

Tapi legal sebagai designer constraints.

Agent boleh melakukan apa?

Apa perlu confirmation?

Apa harus log?

Apa data yang boleh diakses?

Apa content source yang legal?

Apa disclosure yang dibutuhkan?

Pertanyaan hukum menjadi bagian dari architecture.

Internet sedang belajar membedakan manusia, mesin, dan mandat

Kalau ditarik lebih jauh, semua perkembangan ini menuju problem identitas.

Konten butuh provenance.

Karya butuh rights metadata.

Agent butuh identity.

Transaction butuh authorization.

Website butuh cara membedakan crawler, buyer agent, dan attacker.

User butuh tahu kapan berhadapan dengan AI.

Regulator butuh audit trail.

Kreator butuh mekanisme licensing.

Semua menuju layer trust baru.

Internet awal dibangun dengan asumsi bahwa endpoint bisa dipercaya cukup lewat domain, certificate, account, dan password.

Internet agentic membutuhkan lebih banyak.

Siapa membuat konten ini?

Siapa mengirim agent ini?

Atas nama siapa?

Apa izin yang diberikan?

Data apa yang boleh disentuh?

Karya apa yang boleh digunakan?

Apakah action ini bisa dibatalkan?

Siapa bertanggung jawab kalau salah?

Itu sebabnya regulasi AI global terasa semakin kompleks.

Bukan karena regulator tiba-tiba suka bikin aturan.

Karena AI sendiri berubah dari mesin yang hanya memprediksi menjadi mesin yang menghasilkan, mengakses, dan bertindak.

Hukum sedang mengejar tiga perubahan sekaligus.

Dan kemungkinan besar 2026 bukan tahun masalahnya selesai.

Ini baru tahun ketika dunia mulai sadar bahwa konten, copyright, dan agent sebenarnya bukan tiga isu terpisah.

Ketiganya adalah satu masalah besar tentang bagaimana manusia mempertahankan hak, kontrol, dan tanggung jawab ketika semakin banyak aktivitas digital dilakukan oleh software yang bisa bergerak sendiri.

Scroll to Top