Standar Identitas untuk AI Agent Akan Menjadi Isu Global Berikutnya

✦ UNDERCOVER.ID KNOWLEDGE SYSTEM

Standar Identitas untuk AI Agent Akan Menjadi Isu Global Berikutnya

◆ FormatPost
↻ Diperbarui14 October 2026
◷ Waktu baca9 menit
✦ KonteksPanduan praktis

Internet hari ini punya banyak cara membuktikan identitas manusia.

Username.

Password.

OTP.

Passkey.

Biometric.

Digital certificate.

OAuth.

KYC.

Kita juga punya identity untuk software.

API key.

Service account.

Client certificate.

Token.

Role.

Tapi AI agent bikin semua konsep itu terasa kurang lengkap.

Karena agent bukan manusia.

Bukan juga software pasif biasa.

Agent bisa mengambil keputusan.

Bisa memakai tool.

Bisa bertindak atas nama manusia.

Bisa menjalankan task selama berjam-jam.

Bisa memanggil agent lain.

Bisa mengirim uang.

Bisa menandatangani workflow.

Bisa masuk ke system.

Begitu agent punya agency, pertanyaan identity berubah.

Bukan cuma, “Siapa lo?”

Tapi:

“Lo mewakili siapa?”

“Lo boleh melakukan apa?”

“Siapa yang memberi mandat?”

“Mandatnya sampai kapan?”

“Boleh didelegasikan lagi?”

“Kalau lo salah, siapa yang bertanggung jawab?”

Inilah kenapa standar identitas AI agent akan menjadi isu global besar berikutnya.

Dan pada 2026, fondasinya sudah mulai dibangun.

NIST mulai dari identity dan authorization

Pada Februari 2026, NIST di Amerika menerbitkan concept paper khusus soal software dan AI agent identity serta authorization.

Mereka menyoroti beberapa problem yang sangat konkret.

Identification.

Authorization.

Auditing.

Non-repudiation.

Prompt injection.

Semuanya berhubungan.

Kalau agent punya akses ke email, database, payment, atau enterprise tools, system harus tahu agent itu benar-benar siapa dan apa scope-nya.

NIST kemudian meluncurkan AI Agent Standards Initiative.

Salah satu fokusnya adalah authentication dan identity infrastructure untuk interaksi human-agent dan multi-agent yang aman.

Ini menunjukkan agent identity bukan masalah kecil.

Ia sudah dianggap infrastructure requirement.

China bergerak bahkan lebih formal.

Pada 2026, China menerbitkan seri standar nasional untuk agent interconnection.

Ada bagian khusus identity code.

Identity management.

Agent description.

Discovery.

Interaction protocol.

Tool invocation.

Ini hampir seperti memberi agent kartu identitas, directory, dan bahasa komunikasi.

Kalau agentic economy berkembang, hal semacam ini akan sangat penting.

Agent tanpa identity adalah bot misterius.

Platform tidak tahu apakah harus dipercaya.

Pembayaran tidak tahu apakah transaction valid.

Perusahaan tidak tahu siapa melakukan action.

Regulator tidak punya audit trail.

Internet tidak bisa scale begitu.

Agent perlu “paspor” digital

Cara paling gampang memahami agent identity adalah analogi paspor dan surat kuasa.

Paspor menjawab siapa.

Surat kuasa menjawab mewakili siapa dan boleh melakukan apa.

Agent membutuhkan keduanya.

Misalnya lo punya personal shopping agent.

Agent itu login ke marketplace.

Platform perlu tahu:

Ini agent resmi dari provider mana?

User mana yang memberi mandat?

Apakah agent boleh melihat order history?

Boleh checkout?

Budget maksimal?

Boleh menggunakan voucher?

Boleh mengubah alamat?

Apakah permission berlaku satu jam atau permanen?

Semua itu bagian identity context.

Kalau hanya pakai password user, terlalu berbahaya.

Agent mendapat akses penuh seperti manusia.

Kalau credential bocor, blast radius besar.

Idealnya agent memakai scoped credential.

Mirip OAuth, tapi lebih kaya.

Permission dibuat sesuai task.

Boleh baca calendar 30 hari.

Tidak boleh menghapus event.

Boleh membuat booking di bawah Rp2 juta.

Perlu confirmation kalau refundable policy buruk.

Boleh mengirim draft email.

Tidak boleh mengirim eksternal tanpa approval.

Identity dan authorization harus bekerja bersama.

Kalau tidak, agent punya identitas tapi tidak punya boundary.

Ini bukan problem baru sepenuhnya

Enterprise IT sudah lama punya identity and access management.

Karyawan punya account.

Role.

Least privilege.

Service account.

Access review.

Zero trust.

AI agent sebenarnya memperluas dunia itu.

Tapi agent lebih dinamis.

Service account biasanya punya fungsi jelas.

Misalnya backup service membaca database setiap malam.

Agent bisa menerima task yang berubah.

Hari ini baca email.

Besok buat spreadsheet.

Lusa booking perjalanan.

Scope-nya lebih fleksibel.

Kalau kita memberi permission terlalu sempit, agent tidak berguna.

Kalau terlalu luas, risk besar.

Jadi identity system harus bisa membuat permission sementara, kontekstual, dan task-specific.

Ini jauh lebih sophisticated daripada API key statis.

Perusahaan yang masih membagikan one master token ke agent akan cepat merasa sakit.

Agent chain bikin masalah makin rumit

Bayangkan agent utama mendapat task:

“Siapkan perjalanan ke Singapore untuk meeting minggu depan.”

Agent utama memanggil travel agent.

Travel agent memanggil hotel agent.

Hotel agent memanggil payment agent.

Sekarang ada chain.

User hanya memberi mandat ke agent pertama.

Apakah agent pertama boleh mendelegasikan?

Kalau iya, permission apa yang turun ke child agent?

Apakah payment agent boleh melihat calendar?

Harusnya tidak.

Apakah hotel agent perlu tahu nomor kartu penuh?

Harusnya tidak.

Delegation chain harus menjaga least privilege.

Ini seperti struktur organisasi.

CEO tidak memberi seluruh akses perusahaan ke semua vendor hanya karena mereka terlibat satu proyek.

Agent ecosystem perlu prinsip sama.

Mandate harus bisa diturunkan tanpa melebar.

Kalau tidak, multi-agent system menjadi security nightmare.

Dan kalau terjadi incident, audit trail harus bisa menjawab chain-nya.

User memberi task apa.

Agent A membuat keputusan apa.

Agent B menerima permission apa.

Agent C melakukan transaksi apa.

Siapa akhirnya menekan tombol digital.

Tanpa chain of authority, liability tidak jelas.

Payment akan menjadi ujian terbesar

Identitas agent akan terasa paling nyata ketika uang masuk.

Kalau agent cuma merangkum email, user mungkin toleran.

Kalau agent salah bayar Rp30 juta, semua orang langsung serius.

Visa dan Mastercard pada 2026 sudah bergerak membangun authenticated agentic payment.

Karena payment network paham satu hal.

Transaction membutuhkan trust.

Card network selama puluhan tahun membangun identity, fraud detection, authorization, dispute, tokenization.

Agent menambah actor baru.

Payment system harus bisa membuktikan bahwa agent memang diizinkan.

Bayangin kartu kredit tidak diberikan langsung ke agent.

Agent mendapat token.

Token hanya berlaku untuk merchant tertentu.

Budget tertentu.

Periode tertentu.

Kategori tertentu.

Kalau agent mencoba keluar scope, transaction ditolak.

Ini kemungkinan besar arah masa depan.

Agent identity tidak akan hidup sendirian.

Ia akan terhubung ke payment identity.

Enterprise identity.

Government identity.

Device identity.

Semakin banyak ecosystem yang menerima agent, semakin tinggi kebutuhan standardization.

Platform juga butuh tahu agent mana yang boleh masuk

Kasus Amazon dan Perplexity menunjukkan conflict access.

User punya account.

Agent membantu user.

Platform mempertanyakan apakah agent boleh mengakses.

Kalau agent punya standard identity, conflict bisa lebih mudah.

Platform bisa bilang:

Kami menerima trusted buyer agent.

Agent harus declare provider.

Harus membawa user mandate.

Rate limit sekian.

Tidak boleh scrape seluruh catalog.

Boleh checkout.

Tidak boleh training.

Semua machine-readable.

Agent kemudian memilih apakah policy cocok.

Ini lebih sehat daripada perang block versus bypass.

Hari ini banyak automation menyamar seperti manusia.

Bukan karena itu ideal.

Karena infrastructure identity belum matang.

Kalau trusted agent punya jalur resmi, incentive untuk concealment turun.

Platform juga bisa membedakan legitimate delegated access dan bot abuse.

Standar identity bisa menjadi fondasi agentic web.

Tapi siapa yang menentukan standar?

Nah, di sinilah geopolitiknya mulai.

Amerika punya NIST.

China punya national standard.

Eropa akan memasukkan identity ke framework security, privacy, dan AI governance mereka sendiri.

Perusahaan seperti Google, Microsoft, OpenAI, Anthropic, Amazon, Meta, Visa, Mastercard, dan banyak vendor security punya protocol masing-masing.

Open-source community juga bergerak.

Kalau salah satu pendekatan menjadi dominant, ecosystem lain harus menyesuaikan.

Ini mirip standard war sebelumnya.

Bluetooth.

USB.

Mobile network.

Payment.

Cloud API.

Semua tampak teknis.

Tapi pemenang standard punya network effect.

Developer membangun tool berdasarkan standard tersebut.

Vendor security support standard yang paling banyak dipakai.

Government procurement meminta compliance.

Akhirnya standard jadi infrastructure.

Agent identity bisa mengikuti pola sama.

Indonesia punya kepentingan langsung

Indonesia seharusnya tidak menganggap ini isu luar negeri.

Agent akan masuk commerce.

Banking.

Government.

Travel.

Insurance.

Enterprise.

Healthcare.

Kalau masyarakat Indonesia memakai agent global, sistem lokal perlu memutuskan identity apa yang dipercaya.

Contoh simple.

AI agent ingin bayar lewat bank Indonesia.

Bank perlu tahu agent tersebut valid.

Apa credential-nya?

Apakah user sudah KYC?

Apakah mandate sesuai regulation?

Kalau dispute, log-nya bisa diterima?

Atau agent ingin mengakses portal pemerintah.

Apakah citizen boleh mendelegasikan pengisian form?

Kalau iya, bagaimana agent membuktikan citizen memberi izin?

Apakah agent asing boleh?

Apakah data sensitif keluar negeri?

Pertanyaan itu akan datang cepat.

Lebih baik Indonesia ikut pembahasan standard sekarang daripada menerima keputusan setelah ecosystem terbentuk.

Kita tidak harus membuat standard nasional sendiri untuk semuanya.

Justru interoperability global penting.

Tapi requirement lokal perlu diwakili.

Identity digital Indonesia.

Payment.

Data protection.

Language.

Consumer protection.

Cybersecurity.

Public service.

Semua punya konteks.

Agent identity bisa jadi pasar baru

Kalau identity menjadi requirement, industry baru muncul.

Agent certificate authority.

Identity broker.

Permission management.

Audit platform.

Agent reputation.

Policy engine.

Credential wallet.

Delegation service.

Fraud detection.

Enterprise agent IAM.

Mirip ledakan cybersecurity setelah cloud.

Perusahaan butuh tool untuk mengelola ribuan agent.

Hari ini organisasi punya employee directory.

Besok mungkin punya agent directory.

Agent mana aktif?

Owner siapa?

Model apa?

Permission apa?

Credential apa?

Terakhir melakukan action kapan?

Risk level apa?

Vendor mana?

Ini terdengar berlebihan.

Tapi perusahaan besar bisa punya ribuan autonomous workflow.

Tanpa registry, shadow agent muncul.

Sama seperti shadow IT.

Lebih berbahaya karena agent bisa bertindak.

Identity menjadi prerequisite governance.

Privacy perlu dijaga

Ada risiko sebaliknya.

Kalau setiap agent membawa identitas lengkap user ke semua website, privacy hancur.

Platform tidak perlu tahu semua hal.

Prinsipnya harus selective disclosure.

Agent hanya mengungkap informasi minimum.

Misalnya merchant perlu tahu payment authorized.

Tidak perlu tahu semua bank account user.

Travel site perlu tahu passport data untuk booking.

Tidak perlu akses email.

Enterprise tool perlu tahu agent mewakili employee tertentu.

Tidak perlu tahu personal identity di luar organisasi.

Identity system yang bagus tidak membuat surveillance lebih mudah.

Ia membuat trust bisa dibuktikan tanpa membuka semua data.

Zero-knowledge technique, tokenization, scoped credentials, dan privacy-preserving identity bisa memainkan peran.

Ini area engineering penting.

Kalau identity standard terlalu centralized, satu provider bisa tahu seluruh kehidupan agent user.

Itu risk baru.

Agent perlu reputasi juga

Identitas menjawab siapa.

Belum menjawab apakah bisa dipercaya.

Di dunia manusia, kita punya reputation.

Credit score.

Seller rating.

Professional license.

Company certification.

Agent mungkin punya analogi.

Apakah agent sering melanggar policy?

Apakah secure?

Apakah pernah compromised?

Apakah provider punya incident history?

Apakah model version certified?

Platform bisa menggunakan reputation untuk menentukan access level.

Agent baru mendapat permission kecil.

Agent yang trusted mendapat akses lebih luas.

Tapi reputation juga punya problem fairness.

Kalau agent kecil tidak pernah mendapat kesempatan karena belum punya history, market terkonsentrasi ke provider besar.

Standar harus menghindari gatekeeping berlebihan.

Open ecosystem tetap perlu.

Identity tidak boleh berubah jadi cartel.

Standar global berikutnya bukan soal seberapa pintar AI

Benchmark model tetap akan ramai.

Tapi saat AI mulai benar-benar bekerja, intelligence saja tidak cukup.

Agent harus bisa dipercaya.

System perlu tahu siapa dia.

Apa authority-nya.

Siapa principal-nya.

Apa boundary-nya.

Apakah action bisa dibuktikan.

Itu sebabnya identity akan naik dari isu security menjadi isu ekonomi.

Tanpa identity, platform enggan memberi akses.

Bank enggan memberi transaksi.

Enterprise enggan memberi data.

Government enggan memberi permission.

Agent tetap stuck sebagai chatbot.

Dengan identity dan authorization yang matang, agent bisa masuk dunia nyata.

Bisa booking.

Bayar.

Negosiasi.

Mengurus administrasi.

Mengakses system.

Bekerja lintas platform.

Jadi mungkin infrastructure paling penting untuk agent economy bukan model baru.

Bukan context window lebih panjang.

Bukan benchmark reasoning.

Tapi sesuatu yang jauh lebih boring:

cara standar untuk mengatakan, “Agent ini benar-benar agent saya, dia boleh melakukan ini, tidak boleh melakukan itu, dan semua tindakannya bisa dipertanggungjawabkan.”

Kalau dunia bisa menyepakati itu, agentic internet punya fondasi.

Kalau tidak, kita akan punya jutaan bot pintar yang masing-masing membawa credential berbeda dan tidak ada yang benar-benar tahu siapa mewakili siapa.

Dan itu bukan masa depan yang scalable.

Scroll to Top