Ada dua tipe reaksi guru terhadap AI yang sama-sama bisa bikin masalah.
Tipe pertama menolak total.
“Gue sudah ngajar puluhan tahun, nggak butuh chatbot.”
Tipe kedua kebalikannya.
Semua diserahkan ke AI.
Lesson plan.
Soal.
Rubrik.
Feedback.
Ringkasan.
Materi.
Bahkan mungkin jawaban ke orang tua.
Dua ekstrem ini sama-sama nggak sehat.
Pada 2026, posisi paling masuk akal bukan anti-AI dan bukan AI-everything.
Guru perlu cukup paham untuk memakai tool dengan kritis, tetapi tetap mempertahankan professional judgement.
Kemendikdasmen sendiri sudah memperluas Pelatihan Mandiri Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial melalui Ruang GTK pada Juli 2026. Guru bisa mengakses modul dan penguatan materi dari sekolah atau rumah. Pemerintah juga menyiapkan pelatihan KKA berbasis jenjang dan sekolah model.
Artinya, arah sistem pendidikan jelas: kompetensi AI guru memang perlu naik.
Kalau guru benar-benar menolak belajar, ada risiko tertinggal.
Bukan karena semua pembelajaran harus memakai AI.
Tapi karena siswa sudah hidup dengan AI.
Mereka memakai untuk belajar.
Mencari jawaban.
Coding.
Menulis.
Membuat gambar.
Menerjemahkan.
Kalau guru tidak memahami sama sekali bagaimana tool itu bekerja, sulit membimbing penggunaan yang benar.
Bayangin siswa submit tugas dengan sumber palsu hasil AI.
Guru yang paham AI akan curiga terhadap citation yang aneh, meminta source asli, dan menjelaskan kenapa verification penting.
Guru yang sama sekali tidak familiar mungkin hanya melihat tulisannya rapi.
Atau sebaliknya, langsung menuduh semua tulisan rapi sebagai AI.
Dua-duanya problem.
Literacy memberi kemampuan membedakan.
Guru juga perlu AI untuk memahami perubahan assessment.
Essay generik sekarang lebih mudah dihasilkan.
Coding boilerplate lebih mudah dibuat.
Presentasi lebih cepat dipoles.
Kalau metode penilaian tidak berubah, guru bisa menilai kemampuan model, bukan kemampuan murid.
Jadi guru yang tidak pernah mencoba AI akan kesulitan merancang tugas yang relevan.
Mereka tidak perlu menjadi prompt engineer.
Cukup tahu capability dasar dan failure mode.
Apa yang AI bisa lakukan dengan mudah.
Apa yang masih sering salah.
Bagaimana siswa bisa menggunakannya.
Bagaimana mengecek ownership.
Ini bagian dari professional awareness.
Tapi sisi ekstrem kedua juga berbahaya.
Guru yang terlalu bergantung pada AI bisa kehilangan touch dengan materi dan kelas.
Misalnya setiap lesson plan dibuat model.
Karena hasilnya kelihatan profesional, guru langsung pakai.
Problem-nya, AI tidak tahu kelas 8B habis olahraga dan biasanya sulit fokus.
Tidak tahu proyektor ruangan sering rusak.
Tidak tahu sebagian murid belum paham konsep minggu lalu.
Tidak tahu contoh yang sedang ramai di lingkungan sekolah.
Lesson plan yang bagus di atas kertas belum tentu bagus di kelas.
Guru harus mengedit berdasarkan realitas.
AI juga bisa menghasilkan soal yang secara grammar bagus tetapi pedagogically lemah.
Jawaban terlalu obvious.
Distractor tidak masuk akal.
Level kesulitan tidak sesuai.
Konsepnya salah.
Atau soal menguji hafalan padahal tujuan pembelajaran membutuhkan reasoning.
Kalau guru hanya copy, kualitas turun.
Kemampuan mengecek ini datang dari domain expertise.
AI tidak mengganti expertise.
Ia justru membutuhkan expertise untuk diawasi.
Feedback juga area sensitif.
Guru bisa memakai AI untuk membantu merapikan komentar.
Bagus.
Tapi kalau semua feedback dibuat generik, murid merasa tidak benar-benar dilihat.
Kalimat seperti “tingkatkan argumentasi Anda agar lebih mendalam” terdengar rapi tetapi useless kalau tidak ada contoh spesifik.
Guru tahu karya murid sebelumnya.
Tahu progres.
Tahu pola kesalahan.
Context ini harus masuk.
AI boleh membantu wording.
Observasi harus tetap manusia.
Ada juga risiko skill atrophy.
Kalau selama dua tahun semua soal dibuat AI, apakah guru masih terlatih membuat assessment sendiri?
Kalau semua ringkasan materi dibuat AI, apakah guru masih terbiasa menyederhanakan konsep dengan bahasanya sendiri?
Kalau semua komunikasi dipoles AI, apakah voice guru tetap ada?
Ini bukan alasan berhenti pakai.
Cuma reminder bahwa skill yang tidak dipakai bisa melemah.
Sama seperti kalkulator.
Gunakan untuk mempercepat.
Tapi guru matematika tetap harus memahami hitungan.
Guru perlu punya baseline tanpa AI.
Sesekali buat aktivitas manual.
Tulis beberapa soal sendiri.
Buat penjelasan sendiri.
Review materi tanpa assistant.
Bukan untuk nostalgia.
Untuk menjaga muscle.
Di sisi lain, guru yang menolak AI juga bisa kehilangan kesempatan besar mengurangi pekerjaan administratif.
Misalnya membuat tiga versi worksheet untuk kemampuan berbeda.
AI bisa membantu first draft.
Membuat bank latihan.
Merangkum catatan non-sensitif.
Membantu membuat outline komunikasi.
Mengubah materi menjadi bahasa lebih sederhana.
Semua ini bisa menghemat waktu.
Waktu yang kembali bisa dipakai untuk interaksi murid.
Jadi menolak seluruhnya juga punya cost.
Ada satu frame yang lebih sehat: AI sebagai junior assistant.
Junior assistant bisa membantu banyak hal.
Tapi semua hasil perlu review.
Kalau task berisiko rendah dan repetitif, delegasikan lebih banyak.
Kalau menyangkut judgement, hubungan, atau konsekuensi besar, guru pegang lebih erat.
Misalnya generate lima ide aktivitas.
Low risk.
AI boleh banyak membantu.
Menentukan apakah seorang murid punya masalah belajar tertentu?
High risk.
Jangan serahkan ke chatbot.
Membuat draft rubrik?
Boleh.
Menentukan nilai final?
Guru bertanggung jawab.
Meringkas materi?
Boleh.
Menentukan apakah materi cocok dengan kondisi kelas?
Guru.
Pembagian seperti ini membuat penggunaan lebih waras.
Sekolah juga perlu membantu.
Kalau semua diserahkan ke individu, gap antar guru besar.
Guru yang tech-savvy melaju.
Guru lain bingung.
Pada 2026, pemerintah memang memperluas pelatihan agar akses kompetensi lebih merata. Tapi sekolah tetap perlu membuat support lokal.
Sesi berbagi.
Template.
Checklist.
Peer mentoring.
Tidak harus seminar besar.
Kadang satu guru menunjukkan workflow 20 menit lebih berguna daripada keynote dua jam.
Misalnya guru Bahasa Inggris menunjukkan bagaimana AI dipakai membuat variasi latihan vocabulary lalu dicek manual.
Guru matematika menunjukkan cara meminta soal dengan tingkat kesulitan berbeda.
Guru lain melihat dan adaptasi.
Learning jadi practical.
Sekolah juga perlu memberi waktu.
Belajar AI butuh trial.
Kalau guru sudah penuh administrasi, lalu ditambah target “harus pakai AI”, hasilnya cuma checklist.
Adopsi harus mengurangi beban.
Bukan menambah.
Leadership perlu bertanya: setelah AI dipakai, pekerjaan apa yang hilang?
Kalau tidak ada, mungkin implementasinya salah.
Ada satu danger lain: output inflation.
Karena AI membuat materi cepat, sekolah mulai minta lebih banyak materi.
Dulu satu worksheet cukup.
Sekarang karena mudah, diminta lima.
Dulu laporan satu halaman.
Sekarang diminta tiga versi.
Efisiensi hilang.
Guru malah lebih sibuk.
AI seharusnya memberi kembali waktu, bukan menaikkan target tanpa batas.
Guru juga perlu mengajarkan penggunaan AI lewat contoh.
Kalau siswa melihat guru copy output mentah, mereka belajar bahwa itu normal.
Kalau guru bilang, “AI kasih contoh ini, tapi ada bagian yang salah, mari kita cek,” siswa belajar critical use.
Itu jauh lebih powerful.
Teacher behavior adalah curriculum tersembunyi.
Siswa melihat bagaimana orang dewasa menggunakan teknologi.
Apakah percaya mentah.
Apakah cek.
Apakah mengaku kalau salah.
Apakah menjaga data.
Guru tidak perlu sempurna.
Justru transparansi saat menemukan error bisa menjadi pelajaran.
Ada juga data privacy.
Guru bisa tergoda mengupload nilai, nama siswa, laporan perilaku, atau masalah keluarga supaya AI membantu membuat report.
Ini harus dibatasi.
Data siswa sensitif.
Gunakan data anonim jika cukup.
Ikuti tool dan kebijakan yang disetujui sekolah.
Jangan mengorbankan privacy demi convenience.
Guru yang AI-literate bukan guru yang paling banyak memakai AI.
Guru yang AI-literate tahu kapan tool layak dipakai.
Itu beda.
Kadang keputusan terbaik adalah tidak membuka AI.
Misalnya percakapan personal dengan murid.
Feedback emosional.
Konflik kelas.
Pertemuan orang tua.
Ada hal yang lebih baik datang langsung dari manusia.
Di Jakarta, guru juga bekerja dalam konteks yang sangat beragam.
Sekolah negeri.
Swasta.
Internasional.
Madrasah.
SMK.
Fasilitas dan ekspektasi berbeda.
Satu workflow AI tidak cocok semua.
Pedoman KKA resmi sendiri mengakui strategi perlu disesuaikan dengan sumber daya satuan pendidikan.
Ini penting.
Modern bukan berarti semua kelas harus punya chatbot.
Modern berarti guru memahami teknologi dan memilih sesuai kebutuhan.
Balance akhirnya menjadi skill utama.
Kalau tidak pakai sama sekali, guru bisa tertinggal memahami dunia murid dan kehilangan efficiency.
Kalau terlalu bergantung, guru bisa kehilangan judgement, voice, dan kemampuan dasar.
Posisi terbaik ada di tengah.
Gunakan AI untuk volume.
Gunakan manusia untuk makna.
Gunakan AI untuk draft.
Gunakan manusia untuk keputusan.
Gunakan AI untuk variasi.
Gunakan manusia untuk membaca kelas.
Dan sesekali matikan AI untuk memastikan skill guru tetap hidup.
Guru tidak harus bersaing dengan mesin.
Mereka hanya perlu memastikan mesin bekerja untuk pembelajaran, bukan pembelajaran yang berubah mengikuti mesin.
Ada satu area yang perlu dijaga bersama: kemampuan guru membedakan efisiensi dan kualitas. AI bisa membuat satu materi selesai dalam lima menit, tetapi cepat belum tentu tepat. Guru tetap perlu menilai apakah materi itu cocok dengan tujuan belajar, usia siswa, dan konteks kelas.
Sekolah juga bisa membuat pembagian penggunaan yang sederhana. Untuk pekerjaan administratif dan ide awal, AI boleh dipakai lebih luas. Untuk feedback sensitif, keputusan nilai, evaluasi perilaku, atau rekomendasi yang berdampak pada siswa, human review harus kuat. Pembagian berdasarkan risiko lebih berguna daripada aturan “semua boleh” atau “semua dilarang”.
Guru juga sebaiknya punya kebiasaan meminta sumber ketika AI memberi fakta. Ini penting karena siswa akan meniru cara guru menggunakan teknologi. Kalau guru sendiri terbiasa memverifikasi, budaya kelas ikut berubah.
Ada manfaat lain dari guru yang cukup paham AI: mereka lebih siap berbicara dengan orang tua. Ketika orang tua panik karena anak memakai chatbot, guru bisa menjelaskan penggunaan mana yang membantu belajar dan mana yang perlu dibatasi. Tanpa literacy, sekolah mudah terjebak pada alarmism.
Di sisi lain, guru yang terlalu yakin pada AI juga bisa membuat masalah reputasi. Bayangkan feedback siswa salah nama, soal punya fakta keliru, atau materi memasukkan contoh yang tidak sesuai konteks lokal. Kesalahan semacam ini terlihat sepele sampai terjadi berulang.
Karena itu guru perlu mempertahankan final ownership. Kalau materi dibagikan ke siswa, guru yang menandatangani secara profesional, walaupun draft awal dibantu mesin. Ownership ini menjaga standar.
Pada akhirnya kompetensi AI guru bukan soal seberapa banyak fitur yang dikuasai. Kompetensi itu terlihat dari keputusan: kapan memakai, apa yang didelegasikan, apa yang diperiksa, dan kapan harus mengabaikan saran model. Guru yang bisa melakukan itu tidak tertinggal dan juga tidak kehilangan dirinya di tengah otomatisasi.
Bacaan terkait
Artikel ini berada dalam EdTech dan mengikuti metodologi editorial Undercover.id. Format terkait tersedia di Explainer teknologi dan kebijakan digital.