Dulu membandingkan produk itu kerja manual. Lo buka marketplace, buka situs brand, cari review YouTube, masuk forum, lalu kembali lagi ke tab pertama karena lupa spesifikasinya. Untuk barang murah, proses ini mungkin cuma lima menit. Untuk laptop, kamera, vacuum cleaner, skincare, stroller, atau gadget belasan juta, risetnya bisa berubah jadi proyek kecil. Tahun 2026, pola itu mulai bergeser. Orang tidak selalu mulai dari daftar produk. Mereka mulai dari percakapan: “gue butuh laptop ringan buat kerja, baterai awet, budget segini, sesekali edit video, jangan terlalu gaming.” AI lalu mencoba menyusun pilihan, trade-off, dan alasan kenapa satu produk cocok sementara yang lain tidak.
Perubahan ini bukan sekadar chatbot jadi lebih pintar. Google dan OpenAI sama-sama mendorong pengalaman pencarian produk yang lebih conversational. Google memperkenalkan pengalaman shopping di AI Mode yang dirancang untuk membantu pengguna menemukan inspirasi, membandingkan opsi, sampai bergerak lebih dekat ke pembelian. OpenAI juga memperluas shopping research di ChatGPT, termasuk kemampuan menelusuri informasi produk, membandingkan atribut, mempertimbangkan budget dan preferensi, lalu menyusun buyer’s guide. Pada 2026, OpenAI bahkan melanjutkan arah ini lewat pengalaman product discovery yang lebih kaya. Artinya, comparison journey yang dulu tersebar di banyak tab mulai dikompres menjadi satu dialog.
Buat pengguna Indonesia, efeknya terasa sangat praktis. Bayangin lo lagi di apartemen kecil di Kuningan dan pengin beli vacuum cordless. Pertanyaan yang sebenarnya bukan “vacuum terbaik 2026 apa?” Lo mungkin lebih peduli apakah suaranya terlalu berisik, baterainya cukup buat dua kamar, kepala vacuum bisa masuk bawah sofa, suku cadangnya gampang dicari, dan servisnya ada di Indonesia. Search tradisional bisa memberi banyak link yang masing-masing menjawab sebagian. AI mencoba menyatukan semua constraint itu dalam satu ruang percakapan.
Di titik ini, cara orang membandingkan produk ikut berubah. Ranking berdasarkan satu angka makin kurang memuaskan. Produk A bisa punya baterai lebih lama, tetapi bobotnya lebih berat. Produk B lebih ringan, tetapi kapasitas debunya kecil. Produk C paling murah, tetapi after-sales-nya belum jelas. AI yang bagus tidak cuma bilang “nomor satu adalah X”. Ia seharusnya membantu lo memahami kompromi. Produk terbaik menjadi relatif terhadap konteks orang yang membeli.
Itu membuat pertanyaan konsumen juga makin spesifik. Alih-alih “HP terbaik”, query bisa berubah menjadi “HP yang kameranya bagus untuk konser malam, tidak terlalu besar, storage minimal 256 GB, dan masih nyaman dipakai tiga tahun”. Alih-alih “sepatu lari terbaik”, orang bisa menjelaskan riwayat kebiasaan lari, permukaan yang sering dilewati, kisaran harga, sampai preferensi bentuk sepatu. Semakin conversational antarmukanya, semakin natural pengguna menuangkan konteks yang sebelumnya tidak masuk ke kotak pencarian pendek.
Ada konsekuensi lain yang lebih besar: brand tidak lagi hanya bersaing di halaman kategori marketplace. Mereka juga bersaing di dalam proses reasoning mesin. Kalau deskripsi produk samar, spesifikasi berbeda-beda antara situs resmi dan marketplace, nama varian membingungkan, atau informasi garansi tidak jelas, AI punya pekerjaan lebih sulit. Mesin bisa saja tetap menemukan produk itu, tetapi tingkat keyakinannya untuk membandingkan secara presisi akan lebih rendah.
Di sinilah situs resmi brand masih punya peran penting. Marketplace bagus untuk transaksi dan ketersediaan. Review bagus untuk pengalaman penggunaan. Forum bisa menangkap masalah yang tidak muncul di brosur. Tetapi sumber primer tetap dibutuhkan untuk fakta dasar seperti ukuran, material, kompatibilitas, masa garansi, isi paket, versi produk, atau kebijakan resmi. Ketika sumber-sumber ini saling konsisten, AI lebih mudah menyusun jawaban yang rapi. Ketika semuanya berbeda, pengguna yang akhirnya harus melakukan verifikasi ulang.
OpenAI sendiri mengingatkan bahwa informasi belanja seperti harga dan ketersediaan masih bisa keliru dan pengguna sebaiknya memeriksa situs penjual untuk detail paling akurat. Ini penting karena AI bukan mesin kebenaran absolut. Harga promo berubah, stok berpindah, varian habis, marketplace punya seller berbeda, dan satu nama produk bisa dipakai untuk versi yang ternyata tidak identik. Jadi walaupun comparison journey makin cepat, tahap validasi akhir belum hilang.
Kita juga perlu ngomong soal netralitas. Saat sebuah sistem membantu memilih barang, orang mudah menganggap rekomendasinya objektif. Padahal semua sistem recommendation punya input, aturan pemeringkatan, sumber yang terbaca, ketersediaan data, serta keterbatasan. OpenAI menyatakan hasil shopping research dirancang organik dan berbasis informasi publik, sementara iklan dipisahkan dari pengalaman tersebut. Meski begitu, konsumen tetap perlu melihat alasan rekomendasi, sumber informasi, dan apakah produk yang tidak muncul memang jelek atau cuma kurang terbaca oleh sistem.
Di Google, pengalaman shopping di AI Mode juga menggabungkan data produk dan bantuan AI untuk mempersempit pilihan. Ini bisa sangat berguna ketika katalog online terlalu besar. Coba masuk ke kategori sneakers, earbud, atau air fryer. Pilihannya bukan puluhan lagi, bisa ratusan. Problem konsumen modern bukan kekurangan produk, melainkan kelebihan opsi. AI berpotensi menjadi lapisan filtering yang menekan noise sebelum orang masuk ke halaman produk.
Tapi ada trade-off. Kalau proses perbandingan terasa terlalu nyaman, kita bisa berhenti mencari perspektif alternatif. Misalnya AI menyimpulkan tiga produk paling cocok dan lo cuma memeriksa tiga itu. Secara praktis ini efisien, tetapi ruang eksplorasinya menyempit. Produk niche, brand lokal baru, atau pilihan yang tidak punya banyak data bisa lebih sulit muncul. Bukan selalu karena kualitasnya buruk, tetapi karena sinyal yang tersedia lebih tipis.
Brand kecil justru punya peluang kalau informasinya sangat jelas. Situs yang menjelaskan produk dengan struktur rapi, foto yang relevan, spesifikasi konsisten, FAQ nyata, kebijakan pengembalian jelas, dan halaman perbandingan yang fair bisa lebih berguna daripada situs besar yang penuh copy generik. Di era comparison berbasis AI, kualitas informasi operasional menjadi bagian dari pemasaran. Mesin butuh fakta yang bisa dipakai, bukan hanya tagline.
Buat tim e-commerce, ini mengubah pekerjaan content juga. Halaman produk sebaiknya tidak hanya mengejar kalimat persuasif. Pengguna dan AI sama-sama butuh jawaban konkret. Apa bedanya varian A dan B? Siapa yang sebaiknya pilih versi Pro? Apa keterbatasannya? Apakah kompatibel dengan perangkat lama? Bagaimana ukuran sebenarnya? Apa yang termasuk di dalam paket? Bagaimana klaim garansi? Pertanyaan seperti ini dulu sering dianggap konten support. Sekarang ia bisa memengaruhi discovery.
Ada juga perubahan di level perilaku offline. Orang bisa berdiri di toko elektronik di Senayan, memegang dua laptop, lalu membuka AI untuk meminta perbandingan spesifik berdasarkan kebutuhan mereka. Sales di toko tidak lagi menjadi satu-satunya sumber penjelasan. Sebaliknya, AI juga tidak punya pengalaman fisik menyentuh keyboard, melihat pantulan layar, atau merasakan berat perangkat di tas. Maka pengalaman membeli kemungkinan menjadi hybrid: AI membantu shortlist, manusia memvalidasi rasa dan konteks.
Untuk kategori seperti skincare atau produk kesehatan umum, kehati-hatian harus lebih tinggi. Produk dengan klaim sensitif tidak seharusnya dipilih hanya karena ringkasan AI terdengar meyakinkan. Pengguna perlu memisahkan perbandingan produk dari diagnosis atau saran medis. Hal yang sama berlaku untuk produk keuangan, perangkat keselamatan, atau barang yang konsekuensi salah pilihnya besar. AI berguna sebagai alat riset, bukan pengganti penilaian profesional.
Yang paling menarik dari perubahan ini adalah standar “membandingkan” menjadi naik. Konsumen makin terbiasa meminta alasan, bukan hanya daftar. Mereka bisa menantang rekomendasi: “kenapa bukan merek ini?”, “kalau budget gue naik satu juta, apa pilihannya berubah?”, “mana yang servisnya lebih gampang di Jakarta?”, “kalau gue tidak peduli kamera, ranking-nya gimana?” Interaksi seperti ini membuat comparison lebih dinamis daripada artikel “10 produk terbaik” yang statis.
Buat publisher dan reviewer, tantangannya juga berubah. Konten yang hanya mengulang spesifikasi resmi makin mudah diringkas mesin. Nilai manusia justru ada pada pengujian, pengalaman, konteks penggunaan, foto orisinal, pengukuran, metodologi, dan pendapat yang bisa dipertanggungjawabkan. Kalau semua review cuma menyusun ulang brosur, AI tidak butuh sepuluh versi. Kalau ada reviewer yang benar-benar menguji baterai, mencatat panas perangkat, membandingkan kualitas mikrofon di jalan ramai, atau menguji vacuum di apartemen sempit, kontennya punya nilai informasi yang berbeda.
Buat konsumen, kebiasaan terbaik di 2026 bukan memilih antara AI atau search tradisional. Gunakan keduanya sesuai tahap. AI bagus untuk menyusun kebutuhan, mempersempit opsi, dan menjelaskan trade-off. Situs resmi bagus untuk fakta primer. Marketplace berguna untuk harga dan ketersediaan aktual. Review independen membantu memahami pengalaman. Toko fisik berguna ketika feel produk penting. Combination ini jauh lebih waras daripada menyerahkan seluruh keputusan ke satu sumber.
Pada akhirnya, AI Mode dan ChatGPT tidak menghapus aktivitas membandingkan produk. Mereka mengubah bentuknya. Dulu kita membandingkan halaman. Sekarang kita semakin sering membandingkan keputusan. Fokus bergeser dari “produk mana yang ranking pertama?” menjadi “produk mana yang paling cocok untuk kondisi gue, dan apa konsekuensi pilihannya?” Buat orang yang capek hidup dengan 37 tab terbuka, perubahan ini jelas terasa seperti upgrade. Tapi semakin besar peran AI dalam shortlist, semakin penting juga kemampuan kita untuk bertanya, memeriksa sumber, dan tahu kapan harus bilang: oke, gue tetap mau cek sendiri.
Ada satu perubahan kecil yang sebenarnya besar buat cara kita belanja: AI membuat proses membandingkan menjadi iterative. Dulu setelah membaca artikel comparison, lo menerima struktur yang dibuat penulis. Sekarang lo bisa mengubah constraint kapan saja. “Oke, gue ternyata lebih peduli baterai daripada berat.” “Kalau servis resmi wajib ada di Indonesia gimana?” “Buang semua opsi yang layarnya glossy.” Setiap perubahan bisa menghasilkan shortlist baru. Ini membuat kebutuhan konsumen yang tadinya samar menjadi semakin eksplisit sepanjang percakapan.
Buat brand, itu berarti segmentasi juga tidak lagi hanya berdasarkan demografi. Dua orang umur sama, tinggal di kota sama, dan punya budget sama bisa menerima pilihan berbeda karena konteks penggunaannya beda. Satu orang sering mobile dari Tebet ke Sudirman dan butuh perangkat ringan. Yang lain kerja mostly dari rumah dan lebih peduli layar besar. Produk yang sama bisa sangat cocok untuk satu orang dan mediocre untuk yang lain. Marketing yang cuma mengklaim “best for everyone” jadi makin sulit dipertahankan saat AI bisa membongkar trade-off satu per satu.
Konsumen juga sebaiknya belajar memberi constraint yang bisa diuji. Daripada bilang “gue mau yang bagus”, jelaskan kondisi penggunaan. Budget maksimal berapa? Fitur yang wajib apa? Mana yang cuma nice to have? Ada brand yang tidak mau dipakai? Perlu garansi lokal? Butuh barang minggu ini atau bisa menunggu? AI akan jauh lebih berguna ketika problem definition-nya jelas. Ini mirip ngobrol dengan sales yang kompeten: kualitas rekomendasi sangat bergantung pada kualitas brief.
Dan jangan lupa bahwa preference bukan fakta permanen. Hari ini lo bilang paling penting harga. Besok setelah pernah kecewa dengan after-sales, prioritas bisa berubah. Karena sistem AI semakin personal, pengguna perlu sadar kapan personalisasi membantu dan kapan ia malah mengunci pilihan berdasarkan kebiasaan lama. Sesekali minta alternatif di luar pola sendiri. Shopping assistant seharusnya memperluas kemampuan mengambil keputusan, bukan membuat keputusan semakin otomatis tanpa kita sadari.
Bacaan terkait
Artikel ini berada dalam Future of Search dan mengikuti metodologi editorial Undercover.id. Format terkait tersedia di Explainer teknologi dan kebijakan digital.