Esai sekolah lagi kena krisis identitas.
Bertahun-tahun, tugas essay dianggap cara standar mengukur apakah siswa paham materi, bisa membangun argumen, dan mampu menulis dengan jelas.
Lalu AI generatif datang.
Sekarang siswa bisa mengetik topik, jumlah kata, tone, dan struktur.
Dalam hitungan detik, keluar essay yang cukup rapi.
Kalau guru hanya melihat file final, susah tahu berapa banyak proses berpikir yang benar-benar dilakukan siswa.
Apakah itu berarti essay sudah tidak berguna?
Tidak.
Tapi essay sebagai produk akhir tunggal memang semakin lemah.
Kita perlu mengingat kenapa sekolah meminta siswa menulis essay.
Bukan karena dunia butuh lebih banyak file DOCX.
Menulis memaksa orang menyusun pikiran.
Memilih evidence.
Membuat urutan.
Menghadapi counterargument.
Mencari kata.
Mengubah ide kabur menjadi kalimat.
Proses ini punya nilai kognitif.
Kalau seluruh proses diserahkan ke AI, learning hilang.
Yang tersisa cuma output.
Jadi solusi bukan menghapus essay.
Solusinya membuat proses menulis lebih terlihat.
Salah satu cara adalah staged writing.
Siswa mulai dari question.
Lalu thesis.
Lalu outline.
Lalu source.
Lalu draft.
Lalu feedback.
Lalu final.
Guru tidak harus memberi nilai besar di setiap tahap.
Cukup check-in ringan.
Tujuannya memastikan tulisan berkembang.
AI boleh masuk di beberapa tahap sesuai rule.
Misalnya brainstorming boleh.
Proofreading boleh.
Mencari counterargument boleh.
Draft full otomatis tidak boleh.
Atau di kelas lain, AI boleh lebih luas tetapi harus disclose.
Tidak ada satu policy untuk semua.
Learning objective yang menentukan.
Essay personal reflection misalnya berbeda dari research essay.
Kalau tugasnya menulis pengalaman pribadi dan makna yang dipelajari, AI yang membuat seluruh narasi merusak tujuan.
Kalau tugasnya policy analysis, AI bisa menjadi research assistant selama evidence dan reasoning tetap dimiliki siswa.
Guru perlu menjelaskan difference.
Esai juga bisa dibuat lebih spesifik terhadap kelas.
Daripada “jelaskan dampak media sosial”, minta siswa menghubungkan dua teori yang dibahas minggu ini dengan observasi yang mereka lakukan sendiri.
Atau gunakan source packet yang sama untuk semua siswa.
Mereka harus memilih dan mempertahankan interpretasi.
AI tetap bisa membantu.
Tapi generic answer lebih sulit.
Untuk sekolah di Jakarta, siswa bisa diberi konteks lokal yang nyata.
Misalnya observasi transportasi, ruang publik, sampah, budaya nongkrong, atau perubahan lingkungan sekitar.
Tidak perlu mengarang data.
Mereka bisa memakai observasi langsung dan sumber resmi.
Essay menjadi connection antara teori dan dunia.
AI tidak punya pengalaman berjalan di rute yang siswa pilih kecuali siswa sendiri yang memasukkan.
Ownership naik.
Ada juga format in-class writing.
Bukan semua essay harus take-home.
Setelah proses research di rumah, siswa menulis bagian tertentu di kelas tanpa AI.
Misalnya introduction atau reflection.
Ini memberi guru sample baseline writing.
Bukan untuk menangkap cheating.
Untuk memahami suara dan kemampuan siswa.
Baseline ini membantu saat membaca draft panjang.
Oral defense juga berguna.
Tanya tiga menit.
“Argumen utama kamu apa?”
“Source paling penting yang mana?”
“Apa bagian yang berubah setelah revisi?”
Siswa yang benar-benar memiliki tulisannya biasanya bisa menjawab.
AI bisa membantu rehearsal, tapi itu justru membuat siswa mempelajari essay.
Kalau akhirnya mereka paham, learning tetap terjadi.
Kita juga perlu berhenti menganggap grammar sebagai indikator utama kualitas berpikir.
AI membuat grammar makin mudah dibersihkan.
Siswa yang punya ide kuat tetapi bahasa lemah bisa terbantu.
Ini bagus.
Guru bisa fokus lebih banyak ke reasoning.
Apakah claim punya bukti?
Apakah paragraf punya fungsi?
Apakah counterargument fair?
Apakah conclusion mengikuti analysis?
Ini level lebih tinggi.
Untuk pelajaran bahasa, tentu grammar masih learning objective.
Di sana rule AI bisa lebih ketat.
Sekali lagi, tujuan menentukan tool.
Ada satu kekhawatiran: voice siswa hilang.
Kalau semua tulisan dipoles AI, essay anak SMP bisa terdengar seperti white paper konsultan.
Kalimat rapi.
Vocabulary besar.
Tapi tidak terasa seperti mereka.
Guru perlu memberi nilai pada voice.
Bukan berarti slang harus masuk semua essay.
Voice adalah pilihan kata, cara menyusun observation, dan perspektif.
Siswa harus merasa tulisannya milik mereka.
Salah satu exercise bagus adalah “anti-polish”.
Minta siswa menulis satu draft cepat tanpa AI selama 15 menit.
Setelah itu baru boleh menggunakan AI untuk improve.
Kemudian bandingkan.
Apa yang berubah?
Apa yang jadi lebih jelas?
Apa yang malah terasa bukan diri sendiri?
Ini mengajarkan editing.
AI menjadi editor, bukan author.
Ada juga exercise reverse.
Guru memberi essay buatan AI yang terlalu generik.
Siswa harus membuatnya lebih spesifik, memberi source, menghapus klaim lemah, dan menambah pengalaman atau evidence.
Ini bagus untuk melatih critical editing.
Di dunia kerja, skill mengedit AI output akan sangat penting.
Jadi sekolah bisa mengajarkannya sekarang.
Citation juga perlu diperkuat.
AI bisa membuat reference yang terlihat valid tapi tidak ada.
Siswa harus membuka sumber asli.
Essay research sebaiknya menilai source trail.
Bukan hanya bibliography.
Guru bisa sampling satu atau dua citation dan tanya kenapa dipakai.
Ini melatih academic integrity.
Di perguruan tinggi Indonesia, diskusi 2026 juga bergerak ke arah governance yang lebih nuanced. Ada kampus yang sudah punya pedoman AI dalam penulisan ilmiah, sementara LLDIKTI mendorong pengelompokan penggunaan AI berdasarkan tingkat risiko serta deklarasi penggunaan pada konteks tertentu.
Sekolah menengah bisa mengambil spirit yang sama.
Bukan sekadar ban.
Atur berdasarkan fungsi.
AI untuk ide mungkin aman.
AI untuk penyuntingan mungkin aman.
AI untuk menulis seluruh karya yang dinilai sebagai kemampuan menulis jelas problem.
Transparansi menjadi kunci.
Ada juga pertanyaan fairness.
Sebagian siswa punya AI premium.
Sebagian tidak.
Kalau essay assignment memberi keuntungan besar pada model berbayar, sekolah harus hati-hati.
Tool tidak boleh menjadi faktor ekonomi tersembunyi dalam nilai.
Lebih baik assessment didesain agar kualitas reasoning dan evidence tetap lebih penting daripada capability tool.
Guru juga perlu mempertimbangkan accessibility.
AI writing tools bisa membantu siswa dengan kebutuhan tertentu.
Misalnya dyslexia, kesulitan motorik, atau language barrier.
Larangan total bisa memukul siswa yang selama ini terbantu teknologi.
Policy perlu punya accommodation.
Jangan semua bantuan dianggap cheating.
Ini sebabnya aturan berbasis learning objective lebih fair daripada rule satu kalimat.
Ada satu risiko lain: siswa berhenti mengalami blank page.
Padahal blank page melatih ideation.
Kalau setiap tulisan selalu dimulai dari draft AI, siswa jarang belajar membuat struktur sendiri.
Sekolah bisa mempertahankan sesi ide manual.
Mind map.
Free writing.
Outline di kertas.
Diskusi.
Setelah itu AI boleh masuk.
Ini menjaga generative muscle manusia.
Essay juga punya fungsi metacognition.
Ketika menulis, kita sering baru sadar bahwa pemahaman masih bolong.
Kalimat tidak bisa disusun karena konsep belum jelas.
AI bisa menutupi gap itu dengan kalimat mulus.
Siswa merasa selesai sebelum benar-benar paham.
Guru perlu mencari cara membuat gap terlihat lagi.
Reflection question bisa membantu.
“Apa bagian yang paling sulit ditulis?”
“Apa yang kamu ubah pikiran setelah membaca source?”
“Apa pertanyaan yang belum terjawab?”
Jawaban ini sulit dipenuhi dengan copy generik kalau siswa tidak terlibat.
Esai sekolah masih berguna karena menulis tetap bagian dari berpikir.
Yang obsolete adalah asumsi bahwa file final sendiri cukup menjadi bukti proses berpikir.
Era AI memaksa sekolah melihat lebih dalam.
Draft.
Source.
Revision.
Defense.
Reflection.
Semua membuat ownership terlihat.
Mungkin ini malah memperbaiki pendidikan.
Karena bahkan sebelum AI, siswa bisa menulis essay rapi tanpa benar-benar memahami, entah dengan template internet atau bantuan orang lain.
AI cuma membuat masalah itu impossible to ignore.
Jadi jangan buang essay.
Redesign.
Buat tulisan lebih autentik.
Buat proses lebih terlihat.
Jelaskan aturan penggunaan AI.
Nilai reasoning lebih dari polish.
Dan sesekali tetap minta siswa menulis tanpa assistant.
Bukan karena kita anti-teknologi.
Tapi karena kemampuan menyusun pikiran sendiri tetap worth dilatih, bahkan ketika mesin bisa menghasilkan paragraf dalam satu detik.
Ada satu alasan lain essay tetap relevan: menulis panjang melatih endurance berpikir. Dunia digital memecah perhatian menjadi potongan kecil. Essay memaksa siswa mempertahankan satu argumentasi selama beberapa halaman.
AI bisa membantu proses itu, tetapi kalau seluruh struktur dibuat model, siswa kehilangan latihan menjaga coherence.
Guru bisa meminta outline dibuat di kelas sebelum AI boleh dipakai. Setelah final draft jadi, siswa membandingkan dengan outline awal. Apa yang berubah dan kenapa? Ini sederhana tetapi menunjukkan proses.
Peer review juga punya peran baru. Siswa membaca karya teman dan memberi feedback pada argumentasi, bukan grammar saja. Diskusi antar manusia membantu melihat apakah tulisan benar-benar komunikatif. AI review bisa ditambahkan sebagai second layer, bukan pengganti.
Ada juga manfaat meminta siswa membuat source note singkat. Untuk tiap sumber utama, tulis satu kalimat: apa yang diambil dan kenapa dipercaya. Ini mengurangi bibliography dekoratif.
Untuk sekolah yang workload gurunya tinggi, tidak semua draft harus dibaca penuh. Guru bisa sampling thesis, outline, satu body paragraph, dan final reflection. Process visibility tidak harus berarti lima kali lipat kerja.
AI juga dapat digunakan secara terbuka dalam satu assignment khusus. Misalnya siswa meminta model membuat essay, lalu tugas mereka adalah mengedit, fact-check, dan memperbaikinya. Ini mengajarkan bahwa tulisan generatif bukan produk final yang sacred.
Mereka belajar bahwa editing membutuhkan pengetahuan.
Kalau tidak tahu topik, sulit melihat mana yang perlu diperbaiki.
Ini justru membuktikan kenapa subject knowledge tetap penting.
Essay masa depan mungkin lebih sedikit dinilai dari polish dan lebih banyak dari intellectual ownership. Itu perubahan yang sehat.
Siswa tetap perlu menulis.
Hanya sekarang guru punya alasan lebih kuat untuk bertanya bukan “siapa yang mengetik semua kata?”, tetapi “siapa yang benar-benar menyusun pikiran di balik kata-kata itu?”
Dan ada satu bonus dari redesign essay: siswa belajar editing sebagai skill tersendiri. Dunia kerja jarang memberi kita teks sempurna dari awal. Kemampuan membaca draft, menemukan bagian lemah, memperbaiki struktur, dan mempertahankan alasan perubahan akan tetap bernilai meskipun draft pertama dibuat manusia atau mesin.
Jadi essay tidak perlu mati. Ia perlu kembali ke fungsi awalnya: membuat pemikiran terlihat.
Bacaan terkait
Artikel ini berada dalam EdTech dan mengikuti metodologi editorial Undercover.id. Format terkait tersedia di Explainer teknologi dan kebijakan digital.